Bab Sembilan: Kucing Gunung Berbaju Zirah
Di tepi sebuah sungai kecil, seekor makhluk ajaib yang ukurannya tidak terlalu besar sedang minum air. Ukurannya kurang lebih hanya sebesar anjing besar, tubuhnya dilapisi sisik kelabu gelap, ekornya yang panjang dihiasi beberapa duri runcing. Kepalanya sendiri justru mirip dengan kepala kucing hutan.
Kucing Gunung Berzirah, begitu makhluk ini disebut. Konon katanya, ia memiliki sedikit darah naga, walau sudah sangat tipis hingga tak layak disebut keturunan naga, namun cukup untuk membuat tubuhnya tumbuh sisik. Hal ini menjadikan kucing gunung yang seharusnya hanya sedikit lebih besar dari kucing biasa, memiliki pertahanan yang luar biasa tanpa mengurangi kelincahannya.
Makhluk ini bukanlah hewan berkelompok, namun biasanya hidup dalam keluarga kecil beranggotakan sekitar sepuluh ekor. Saat ini, di samping Kucing Gunung Berzirah itu, ada tujuh hingga delapan ekor kucing gunung biasa yang mengelilinginya.
Sekelompok hewan liar seperti ini, ditambah satu makhluk ajaib, seharusnya tidak menjadi penghalang berarti bagi Lais dan kawan-kawannya. Namun masalahnya terletak pada Kucing Gunung Berzirah itu. Dengan sedikit darah naga yang mengalir dalam tubuh, ditambah kemampuan alami kucing gunung, telah terjadi perubahan yang luar biasa.
Ia bukan hanya lincah seperti angin, tapi juga memiliki dua hingga tiga sihir bawaan. Tentu kekuatan sihir itu tak sebanding dengan sihir naga sejati, namun bagi makhluk ajaib tingkat tiga, kemampuan itu sudah cukup melipatgandakan kekuatannya!
Jadi, meski penampilan Kucing Gunung Berzirah itu tampak tidak menarik, kekuatan sebenarnya bahkan bisa membuat petualang tingkat empat pun kesulitan jika bertarung sendirian. Namun karena makhluk ini memilik darah naga, bahan-bahan dari tubuhnya sangat bernilai tinggi. Para petualang yang menemukannya, hampir tak ada yang mau melewatkan kesempatan.
Kini, target kelompok Lais adalah Kucing Gunung Berzirah itu.
Makhluk ini sangat waspada. Jika sekelompok orang berjalan mendekat tanpa hati-hati, ia pasti akan melarikan diri secepat mungkin. Meski kekuatannya menonjol di antara makhluk tingkat tiga, ia tidak suka bertarung langsung. Jika diganggu namun tidak berhasil dibunuh, maka lawannya akan menghadapi masalah di kemudian hari. Ia pasti akan mencari kesempatan untuk menyerang secara diam-diam, membuat musuhnya kerepotan dan bahkan bisa saja celaka jika lengah.
Tentu saja, jika lawan jauh lebih kuat, ia takkan memilih mati konyol. Ia akan segera melarikan diri dan menyimpan dendam. Soal apakah ia bisa membalas di kemudian hari, itu soal lain.
Untuk menghadapi Kucing Gunung Berzirah, serangan harus dilakukan secepat kilat agar ia tak sempat melarikan diri. Jika tidak, akan sangat sulit menangkapnya lagi.
Karena itulah, Lais dan teman-temannya telah menyiapkan jebakan rapat untuk makhluk ini.
Setelah puas minum, Kucing Gunung Berzirah itu berjalan ke arah hutan bersama kawan-kawannya. Kucing-kucing gunung menjaga ketat di sekelilingnya, karena mereka tahu, hanya dengan melindungi pemimpin mereka, kelompok kecil ini bisa bertahan hidup lebih baik.
Namun, hari ini ada sekelompok manusia yang berencana memburu pelindung mereka.
Ketika kelompok kucing gunung itu melewati sebuah pohon besar, serangan tiba-tiba dilancarkan tanpa peringatan. Dari tanah, berpendar cahaya, sebuah tombak es menembus tepat di bawah kaki Kucing Gunung Berzirah! Namun, makhluk itu memang terkenal lincah, ia langsung melompat menghindar, tak tersentuh tombak es tersebut.
Namun, tombak es itu tidak hanya muncul begitu saja. Setelah gagal mengenai sasaran, tombak itu pecah dengan suara keras, melepaskan kabut es yang menyelimuti area sekitarnya!
Dalam sekejap, semua kucing gunung, termasuk Kucing Gunung Berzirah, dilapisi embun beku di tubuh mereka. Embun beku ini tidak melukai, hanya membuat tubuh menjadi dingin—tidak cukup untuk membekukan, namun cukup untuk menurunkan kecepatan mereka.
Itulah kegunaan utama sihir ini: kombinasi antara Tombak Es dan Lingkaran Embun Beku!
Inilah salah satu alasan Lais dan teman-temannya menaruh harapan pada Lidia. Meski baru belajar sihir dari seorang penyihir pengembara kurang dari setahun, Lidia sudah mampu menggabungkan sihir dan menghasilkan efek tak biasa. Bakat seperti ini, jika tidak dipelajari lebih lanjut, benar-benar sia-sia. Siapa tahu, suatu hari nanti ia bisa menjadi Penyihir Emas tingkat tujuh atau lebih!
Di dunia ini, petualang tingkat satu hingga tiga disebut Perunggu. Tingkat empat hingga enam adalah Perak. Sementara tingkat tujuh hingga sembilan, disebut Emas. Jika menjadi petualang Emas, berarti sudah termasuk segelintir orang terkuat di dunia—bahkan di beberapa negara kecil, bisa jadi kekuatan utama negara!
Karena melihat potensi dan kepribadian Lidia, Lais dan kawan-kawan membawanya dalam kelompok mereka, membantu gadis kecil berpengalaman minim ini mencari uang sekolah. Kemampuan sihir Lidia pun sangat membantu tim mereka, membuat perjalanan jauh lebih mudah.
Seperti sekarang, Lingkaran Embun Beku itu langsung menurunkan keunggulan utama Kucing Gunung Berzirah—kecepatannya. Saat itulah, giliran anggota lain bergerak.
Dengan cepat, Ban melompat turun dari pohon besar di depan Kucing Gunung Berzirah. Ia menangkis dengan perisai, memutus jalur pelarian makhluk itu. Dengan tangan lain, ia mengayunkan pedang panjang ke arah lehernya!
Serentak, dari belakang, Beck keluar dari semak-semak, menusukkan tombak ke arah ekor makhluk itu. Di sisi lain, Paman Lais melompat dan mengayunkan pedang besar bertangan dua ke arah Kucing Gunung Berzirah!
Kerja sama tiga orang ini sangat rapi, menutup seluruh jalan keluar Kucing Gunung Berzirah. Mereka membentuk segitiga sama sisi, benar-benar mengurung makhluk itu dan memupuskan niatnya untuk kabur!
Namun, Kucing Gunung Berzirah adalah makhluk berdarah naga. Dalam keadaan terdesak, ia harus mengeluarkan kemampuan aslinya.
Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan mengaum keras. Suaranya tak lagi seperti kucing gunung, melainkan lebih mirip auman naga, meski jauh lebih nyaring. Dalam auman itu, aura menakutkan langsung menyebar!
Tiga orang di sekitarnya terdiam sejenak karena terintimidasi auman itu. Memanfaatkan kesempatan, Kucing Gunung Berzirah melesat keluar dari kepungan.
"Sial, ternyata makhluk ini punya sihir bawaan berupa Aura Naga! Ini jenis langka, kristal magisnya pasti lebih mahal!" Begitu efek kejutnya hilang, ketiganya segera sadar. Namun saat itu, makhluk itu sudah lolos. Beck berteriak frustrasi, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Saat itu, Erin membidikkan busur panjang, melepaskan anak panah satu demi satu ke arah Kucing Gunung Berzirah. Untuk menahan gerakannya dan mendapatkan sudut pandang lebih baik, Erin melompat di antara pepohonan seperti burung. Meski makhluk itu lincah, ia tetap harus terus berbelok menghindari anak panah, sehingga kecepatannya menurun drastis.
Pada saat bersamaan, Jiran pun bergerak. Ia tadinya bersembunyi di sisi lain untuk mencegah makhluk itu kabur, namun siapa sangka makhluk itu mengaktifkan Aura Naga dan melarikan diri lewat arah yang tak terduga. Kini, Jiran hanya bisa menggunakan ilmu gerak ringannya mengejar Kucing Gunung Berzirah.
Tidak seperti yang lain yang berlari dan melompat sekuat tenaga, Jiran justru menenangkan diri, berdiri tegak, lalu melangkah ke depan.
Langkahnya itu langsung menempuh jarak belasan meter, seolah tanah di depannya menyusut dan ia langsung berada di sana!
Dalam permainan "Pendekar Pedang Tiada Tanding", di perguruan Gunung Pedang tempatnya berasal, ilmu gerak ringan itu disebut "Sejengkal Jarak, Ujung Dunia".
Menurut para murid Gunung Pedang, jika aku mengejarmu, hanya sejengkal jauhnya; jika kau mengejarku, maka seolah jaraknya ujung dunia.
Ilmu gerak ringan ini memang tidak cocok untuk perjalanan jauh, bahkan tidak dianjurkan untuk itu. Namun dalam pengejaran jarak pendek, kehebatannya tak tertandingi!
Meski setelah menyeberang ke dunia ini semua tingkatannya kembali ke awal, namun bahkan tingkat terendah dari Sejengkal Jarak, Ujung Dunia, sudah cukup membuatnya melangkah belasan meter dalam satu gerakan.
Ia mengalirkan energi sejati di tubuhnya—jelas hanya energi sejati yang bisa menggerakkan ilmu gerak ringan, bukan kekuatan sihir—dan dalam beberapa langkah, ia sudah berada di samping Kucing Gunung Berzirah.
Ia membuka jurus Pedang Empat Musim!
Pedang Empat Musim ini terkenal sebagai jurus yang sangat indah dalam permainan itu. Setiap ayunan pedangnya tak tercemar aroma darah, bagaikan lukisan tinta di atas kanvas. Gerakannya tampak lambat namun sebenarnya sangat cepat, mudah dibaca tapi sangat sulit ditangkis!
Inilah keunikan dan keindahan Pedang Empat Musim.
Meskipun setelah menyeberang tingkatannya kembali ke angka nol, dan kekuatan jurusnya menurun, namun pengalaman bertahun-tahun Jiran dalam memahami ilmu pedang ini bukanlah omong kosong. Bahkan jurus tingkat satu pun mampu ia gunakan dengan efek besar. Apalagi kini, setelah beberapa waktu bertarung, tingkat pedangnya sudah naik ke tingkat dua, dan level pribadinya pun sudah lebih dari dua puluh.
Dalam beberapa jurus, semua jalur pelarian Kucing Gunung Berzirah tertutup rapat oleh ayunan pedang Jiran. Jika makhluk itu cukup nekat untuk menerobos, mungkin bisa lolos dengan luka, namun sifat makhluk ini memang penakut, mana berani menerjang ke arah pedang?
Akhirnya, Kucing Gunung Berzirah itu pun terjebak sendirian oleh Jiran. Cahaya pedang berkelebat di sekitarnya, gelombang pedang bahkan membalik tanah di sekeliling. Makhluk itu terpaksa bergerak kacau menghindari serangan Jiran, dan setiap kali hendak kabur, selalu saja ada pedang tiba-tiba muncul menutup jalannya!
Pedang Empat Musim tingkat dua sudah dapat melepaskan gelombang pedang, bukan hanya mengandalkan teknik dasar. Akibatnya, kekuatan jurus itu meningkat tajam. Karena itu, hanya dengan kekuatan seorang diri, Jiran mampu menahan makhluk berdarah naga itu.
Namun, kelincahan Kucing Gunung Berzirah memang luar biasa, buktinya ia bisa lolos dari kepungan tiga orang sebelumnya. Sayangnya, Aura Naga tampaknya tak bisa digunakan dua kali dalam waktu singkat. Kalau bisa, mungkin ia masih punya peluang kabur.
Tapi untuk saat ini, Jiran pun belum bisa menaklukkan makhluk itu. Kecuali ia mengerahkan seluruh tenaga dan menggunakan teknik pedang baru yang ia pahami. Namun, tenaga pedang tidak mudah dikumpulkan, dan menggunakan teknik pedang berarti harus menguras energi sejati. Kalau bisa, ia ingin menghemat tenaga...
“Hoi, kalian cuma menonton saja di sana? Kurasa sekarang aku benar-benar butuh satu atau lebih bantuan untuk menyelesaikan pertarungan ini…” Jiran menatap ke arah Lais dan yang lain, yang sudah mendekat namun belum ikut bertarung, hanya berdiri di pinggir menyaksikan, lalu berkata dengan nada tak berdaya.