Bab Dua Puluh Tiga: Inkarnasi Dewa Sejati
Tiga orang itu perlahan melangkah memasuki lembah, dan sekali lagi mereka melihat altar itu.
Seperti yang telah diduga oleh Lais, perwujudan dewa sejati itu memang masih berada di atas altar. Ketika melihat Jiran dan yang lainnya mendekat, perwujudan dewa sejati itu sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan, malah tersenyum samar di wajahnya.
“Kau telah datang. Cahaya sang dewa sejati telah menuntunmu, membuatmu mengikuti jalan yang diberikan pelayan dewa hingga tiba di sini. Domba yang tersesat, datanglah dan berlindunglah di pelukan dewa sejati!”
Jiran terkejut. Awalnya ia mengira, dengan kedatangannya ke sini, dewa sejati itu pasti akan murka, lalu menghardiknya karena telah membunuh pelayannya, dan mengutuknya ke neraka paling dalam, tak akan pernah bangkit lagi—tentu saja, mungkin neraka di dunia ini tak terdiri dari delapan belas tingkat, tapi kira-kira seperti itu maknanya. Siapa sangka, perwujudan dewa sejati itu malah menganggap dirinya sebagai domba miliknya!
Domba apa pula! Domba itu semua dipelihara hanya untuk dimakan, aku sama sekali tidak tertarik!
“Maaf, aku tidak percaya pada dewa. Apapun yang kuinginkan, aku lebih suka berusaha sendiri untuk mendapatkannya. Kalau dewa memang maha kuasa, kenapa tidak memberimu kekuatan luar biasa yang tak bisa disaingi siapa pun?” Jiran tersenyum sinis. Di masyarakat modern, meski ia tidak pernah mempelajari teologi, setidaknya ia pernah mendengar berbagai paradoks tentang kepercayaan. Ia ingin mencoba menipu dewa sejati ini, entah berhasil atau tidak.
“Sesuatu yang didapat dengan mudah, orang tidak akan pernah menghargainya. Hanya dengan pengorbanan besar, seseorang baru mau berusaha keras, bukankah begitu?” Perwujudan dewa sejati itu benar-benar meladeni diskusi Jiran.
“Kalau memang dewa maha kuasa, sepenuhnya bisa membuat semua makhluk cerdas menyembahnya, mengapa harus repot-repot dan berdarah-darah begini? Seperti mereka…” Jiran melirik jenazah para petualang di sudut, “Mengubah mereka menjadi pengikutmu, bukankah lebih berguna daripada membunuh mereka?”
Perwujudan dewa sejati itu tampak tersenyum, tubuhnya bergetar, dan ekspresi samar di wajahnya terus berubah.
“Tak ada yang bilang dewa benar-benar maha kuasa, hanya saja dibanding makhluk cerdas biasa, kemampuan mereka nyaris tak terbatas. Pada dasarnya, beriman pada dewa adalah sebuah transaksi. Kau memberi iman dan persembahan, aku memberikan kekuatan dan penghiburan batin. Keduanya mendapatkan keuntungan, mengapa tidak?”
Jiran terperangah mendengar penjelasan itu. Dewa sejati ini benar-benar terbuka padanya! Teori transaksi semacam itu sering ia baca di novel di dunia aslinya, dan itu sesuatu yang masuk akal baginya. Kalau tidak, untuk apa dewa-dewa itu repot-repot mengurusi manusia fana? Pasti demi memperoleh keuntungan juga. Tapi kalau hanya dewa yang mendapat untung, mana mungkin manusia mau dengan sukarela menyembahnya tanpa imbalan?
Penjelasan tentang transaksi itu memang bisa menjelaskan semuanya. Dewa butuh iman untuk memperkuat dirinya, manusia butuh kekuatan dan mukjizat dari dewa, keduanya saling membutuhkan…
“Tapi kenapa kau harus membunuh mereka? Mendapatkan iman kan ada banyak cara?” Jiran tetap keberatan soal mayat-mayat petualang di sana.
Para pengikut dewa sejati itu tak masalah, mereka sendiri yang memilih jalan berbahaya. Tapi para petualang itu, betapa malangnya mereka? Hanya karena perwujudan dewa sejati butuh persembahan darah, mereka ditangkap dan dikorbankan…
“Haha, setiap dewa punya kesukaan masing-masing, sama seperti manusia punya hobi yang berbeda. Aku, lebih menyukai persembahan berdarah. Sebagai dewa, kelasku jauh di atas manusia, melihat manusia seperti manusia memandang monster. Manusia atau makhluk cerdas lain mengendalikan monster untuk memburu monster, lalu kenapa aku sebagai dewa tidak boleh?”
Teori itu begitu kuat hingga Jiran tidak bisa membantahnya. Bagaimanapun, di kelompoknya sendiri ada seorang elf penjelajah yang selalu memakai seekor elang bernama Hualo untuk memburu monster…
Jadi, yang disebut dewa itu hanyalah makhluk dengan tingkatan jauh lebih tinggi dari makhluk cerdas biasa. Mereka tidak maha kuasa, tapi bagi manusia, mereka hampir tak terkalahkan. Menyembah mereka tak membuatmu kehilangan apa pun, hanya sekadar memberikan iman. Sebaliknya, kau akan mendapat kekuatan luar biasa, jauh melampaui usahamu sendiri. Bukankah semua makhluk cerdas suka mencari jalan pintas? Mereka yang tak memilih jalan pintas, hanya takut kehilangan sesuatu karena itu. Sekarang ada jalan pintas di depanmu, tanpa risiko, kenapa tidak kau tempuh? Kau telah membunuh pendeta-ku, itu berarti kau lebih kuat darinya. Jika kau membantuku, aku akan memberimu kekuatan yang berkali lipat dari miliknya…”
Suara perwujudan dewa sejati itu makin lama makin samar, namun setiap kata menembus ke telinga Jiran. Ia merasa pikirannya menjadi kabur, kata-kata itu benar juga…
Dalam keremangan itu, Jiran mendadak berpikir bahwa perwujudan dewa sejati di depannya ini sebetulnya tidak buruk. Ia begitu terbuka, bahkan mengakui bahwa dewa hanyalah makhluk yang satu tingkat lebih tinggi dari manusia. Kalau ia tetap melawan, bukankah itu kurang sopan? Mungkin sebaiknya ia biarkan saja perwujudan itu tercapai? Menjadi pendeta dewa bukan hal yang tidak bisa dipertimbangkan…
Terdengar samar suara memanggil namanya. Siapa yang memanggil? Ia tak tahu… Kenapa dipanggil? Bukankah sekarang semuanya baik-baik saja… Lais, Airin, Lidia, Ban, dan Bek, semua tak perlu dipedulikan lagi…
Tiba-tiba, aliran energi sejati dalam tubuh Jiran mengalir deras. Tak terhitung energi sejati memancar dari pusat tenaganya, menyebar ke seluruh tubuh. Paling banyak mengalir ke kepala, membuatnya pusing dan nyaris pecah.
“Aaah!” Jiran menjerit. Bukan karena ia tak tahan sakit, tapi rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba. Dan barusan ia tengah tenggelam dalam keadaan seperti terhipnosis, menurunkan semua pertahanan diri. Rasa sakit mendadak itu langsung membuatnya menjerit.
Namun, jeritan itu justru membuatnya sadar kembali.
Ia tersadar bahwa dirinya telah terkena jebakan! Selama percakapannya dengan perwujudan dewa sejati, ia sepenuhnya terpengaruh oleh ucapan lawannya. Dewa itu benar-benar memahami karakternya, mengarahkan dan mungkin menambahkan sesuatu dalam kata-katanya—hingga membuatnya terhipnosis! Jika ia terus terperangkap dalam kondisi itu, siapa tahu akhirnya benar-benar akan menjadi pendeta sekte dewa sejati!
Tadi, suara yang memanggil, pasti Ban dan Bek yang menyadari ada yang aneh padanya, mencoba membujuknya. Tapi ia malah mengabaikannya… Untung saja energi sejati dalam tubuhnya tiba-tiba mengamuk, membuatnya kembali sadar!
Ia segera sadar, ini pasti efek dari jurus Pedang Empat Musim. Pedang hati, hati mengikuti pedang, namun pedang juga mengikuti hati. Tanpa keteguhan hati, mana mungkin jurus ini bisa dikuasai tinggi?
Tadi, pasti jurus pedang hati itu terpicu, secara naluriah mengendalikan energi sejati untuk mengusir kekuatan asing dari pikirannya. Tapi level jurus pedangnya masih terlalu rendah, kalau tidak, hipnosis dari perwujudan dewa sejati itu sejak awal tidak akan berpengaruh!
Tentu, ini juga karena yang ia hadapi hanya perwujudan saja. Kalau dewa sejati yang asli, mungkin saja nasibnya akan jauh lebih buruk…
Nanti, ia harus punya pusaka yang bisa melindungi dari serangan mental! Jiran bertekad dalam hati.
Setelah itu, ia bersiap mengangkat pedang tulang di tangannya untuk menghancurkan perwujudan dewa sejati itu. Makhluk ini tidak memiliki wujud nyata, hanya bisa mengendalikan orang dengan kekuatan mental. Menghancurkannya bukan hal yang sulit.
Namun, Jiran menyadari ia tidak bisa bergerak.
Seakan-akan tubuhnya terbelenggu oleh kekuatan mental yang dahsyat, untuk menggerakkan satu jari pun sangat sulit. Melihat perwujudan dewa sejati itu, Jiran menggigit bibir keras-keras, matanya nyaris menyala oleh amarah.
“Dewa sejati apanya, hanya dewa jahat belaka! Aku tidak akan membiarkanmu turun ke dunia ini!” Dengan susah payah, ia memaksa beberapa kata keluar dari mulut. Namun kekuatan mental itu begitu kuat, bukan hanya dirinya, Ban dan Bek juga tak bisa bergerak!
“Tak kusangka kau bisa menahan pengaruhku… Tapi tidak apa-apa, kita masih punya banyak waktu, hahaha…” Meski rencananya terbongkar, perwujudan dewa sejati itu tidak terlihat khawatir. Ia hanyalah sebuah proyeksi, meski bisa memakai sedikit kekuatan mental, tetap butuh waktu lama untuk bersiap. Kini ketiganya sudah ia kuasai, pelan-pelan ia akan menggerogoti mereka dengan kekuatan mental, hingga akhirnya jadi pengikutnya…
Sasaran utamanya memang Jiran, bukan berarti ia tak peduli pada dua orang lainnya, tapi kekuatan mentalnya hanya cukup untuk menaklukkan satu orang. Karena itu, ia memilih yang terkuat.
Jiran pun paham situasinya. Meski setelah Lais dan lainnya mengalahkan para penjaga sekte dewa sejati, mereka mungkin sempat menolong, tapi kapan itu? Bagaimana jika ia tak sanggup bertahan? Bagaimana kalau Ban dan Bek lebih dulu dikuasai?
Ia harus mencari cara untuk menyingkirkan perwujudan dewa sejati di hadapannya! Tapi sekarang ia tak bisa bergerak, jelas-jelas dikunci oleh kekuatan mental. Sistem yang ia bawa, satu dari dunia silat satu dari dunia keabadian, bisa bertahan dari serangan mental saja sudah untung, apalagi bisa mematahkan kekuatan lawan…
Sayangnya, ia di dunia keabadian hanya seorang pemain santai yang suka membuat pusaka dan memasak! Andai saja ia punya jurus pemusnah iblis pikiran! Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang? Dengan apa ia bisa lepas dari kungkungan kekuatan mental ini? Dengan jurus hatinya? Atau dengan pusaka di tangannya?
Memikirkan pusaka, tiba-tiba telapak tangan Jiran terasa panas. Pedang tulang yang ia genggam mendadak membara. Sebuah sensasi aneh mengalir dari pedang tulang itu ke tubuhnya.
Terjadi lagi! Jiran mengenali perasaan ini. Setiap kali ia menyelesaikan pusaka buatannya, ia pasti mengalami perasaan seperti ini. Awalnya hanya saat pusaka selesai dibuat, tapi lama-lama, bahkan di tengah proses pembuatan pun bisa muncul. Namun, tiap kali sensasi itu hanya sekejap, tak pernah berhasil ia ulangi meski sudah berusaha.
Setiap kali, ia merasakan pusaka itu seolah menyatu dengan darah dan nadinya. Beberapa kali bahkan ia merasa pusaka itu melebur ke tubuhnya… tapi segera sirna. Ia tak tahu kenapa, mungkin karena perubahan energi sejati dan aura dalam tubuhnya yang tak diketahui orang lain. Mungkin juga karena hukum dunia ini membuat energi dari dua dunia permainan itu jadi berubah aneh…
Tak disangka, kali ini, di saat paling genting, sensasi itu muncul lagi. Bahkan, sensasinya makin kuat, pedang tulang itu seperti berubah menjadi aliran air yang berusaha keras menyusup dari telapak tangannya ke dalam tubuh.
Perasaan itu semakin kuat, energi sejati dan aura dalam tubuhnya pun makin membara. Seakan tubuhnya tak sanggup lagi menampung semua energi, hingga dalam benaknya ia merasa tubuhnya menggelembung seperti balon yang sewaktu-waktu bisa meledak…
Dan pada saat itu, kepalanya seperti dihantam sesuatu.
Sebuah cahaya menyala dari dalam kepalanya, memenuhi seluruh penglihatannya. Sebuah sensasi aneh memenuhi tubuhnya, memberitahunya bahwa ada sesuatu yang telah berubah.