Bab 167 Magister Sihir
Ketika sinar matahari pertama di pagi hari jatuh, makhluk mayat hidup terakhir akhirnya berubah menjadi abu di tangan para prajurit Salib. Menyaksikan matahari yang perlahan naik di ufuk, menghadap ke arah sang surya, Gu Feicang tidak kuasa menahan diri untuk mengulurkan tangan, menutupi matanya, membiarkan bayangan siluet cahaya matahari jatuh di wajahnya.
"Tuan!"
Suara Ashley terdengar. Gu Feicang seketika berbalik. Diiringi embusan wangi tubuh, *bam*, sebuah tubuh yang hangat telah berada di dalam dekapannya.
Mengeratkan pelukan pada kedua bahu Ashley, Gu Feicang berbisik pelan, "Ashley, aku sudah kembali."
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar. William yang berwajah elok berjalan mendekat di bawah terpaan cahaya mentari pagi. Sinar hangat yang menyentuh wajahnya membuat kulit putihnya tampak semakin jernih dan tembus pandang bagaikan giok putih. Ada sedikiturat merah di kedua matanya, yang menunjukkan bahwa ia tidak cukup beristirahat selama kurun waktu ini. Pakaian yang dikenakannya juga tampak sedikit lebih longgar, membuat seluruh sosoknya terlihat semakin rapuh.
Namun saat ini, seulas senyum tipis terukir di wajahnya. Senyuman tipis yang bagaikan matahari saat ini—lembut, cemerlang, tetapi tidak menyilaukan, memberikan kesan kehangatan yang menenangkan.
"Selamat datang kembali, Francisco," suara William terdengar diiringi senyuman.
Mendengar panggilan tersebut, Gu Feicang tidak kuasa mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Sekarang tidak memanggilku Tuan Count Francisco lagi?"
"Kukira, sekarang sudah tidak perlu lagi," jawab William tersenyum wajar.
"Tentu saja, William," balas Gu Feicang, lalu tersenyum lebar sambil membuka mulutnya.
Karena kedatangan William, Ashley perlahan melepaskan diri dari dekapan Gu Feicang dan mendongak menatap pria itu. Meskipun wajah Gu Feicang dihiasi senyuman cerlang, kelelahan dan lingkaran hitam yang jelas terlihat di sudut matanya sudah cukup membuktikan bahwa perjalanan tanpa henti kembali ke Kota Saint York telah membuat Gu Feicang sangat kelelahan saat ini.
Seketika, secercah rasa iba melintas di mata Ashley. Ia buru-buru berkata, "Baiklah, Tuan, Yang Mulia William, kalian tidak perlu membahas hal ini lagi. Makhluk mayat hidup akhirnya berhasil dibasmi, dan kalian juga sudah bekerja keras begitu lama. Cepatlah pergi beristirahat, terutama Anda, Tuan, Anda sudah tidak beristirahat selama beberapa hari. Tubuh Anda tidak akan sanggup menahannya."
Mendengar ucapan Ashley, Gu Feicang menunduk menatapnya dan tersenyum tipis. "Hm, benar juga. Kalau begitu, urusan membersihkan medan pertempuran untuk sementara kuserahkan kepada kalian. Aku akan kembali untuk beristirahat dulu."
"Pergilah dengan tenang, ada kami di sini!" ujar William melihat hal itu.
Mendengar itu, Gu Feicang mengangguk tanpa banyak bicara, lalu berbalik dan kembali ke kamarnya. Meskipun Gu Feicang mengatakan bahwa dirinya hendak beristirahat, namun sesampainya di kamar, ia sebenarnya tidak langsung beristirahat. Sebaliknya, ia mengeluarkan tongkat sihir, menggambar sebuah susunan mantra pertahanan di lantai, lalu duduk di atas tempat tidur dan mulai bermeditasi.
Di dalam ruang istana, di dalam hamparan ruang yang tak bertepi, terdapat lautan yang luas tanpa batas. Ombak yang bergulung-gulung terus mengamuk, menghantam karang di tepi pantai. Di atas tebing curah, sebuah mercusuar memancarkan cahaya lembut, seolah mampu menembus batasan alam semesta dan menuntun arah.
Bangunan tingkat dua dari ruang istana ini mampu menyerap kekuatan makhluk-makhluk yang dibunuh oleh Gu Feicang atau para pasukannya, lalu menyalurkannya kembali ke dalam ruang istana untuk menopang operasinya, sekaligus memberikan sedikit tambahan kekuatan kepada Gu Feicang dan pasukannya.
Sebagaimana pepatah tetesan air yang terkumpul menjadi lautan, kekuatan ini mungkin tampak tidak berarti di hari-hari biasa. Namun, ketika menghadapi perang dan memiliki jumlah yang mencukupi, bahkan jika itu hanya sebagian kecil saja, kekuatan yang terkumpul sama sekali tidak boleh diremehkan.
Sebelumnya, di Kota Emerald, Gu Feicang seharusnya berhasil melakukan terobosan dengan bantuan Air Kehidupan. Namun, karena pertempuran di Kota Saint York yang pecah secara tiba-tiba, terobosan tersebut menjadi gagal.
Setelah satu kegagalan, melakukan terobosan untuk kedua kalinya biasanya merupakan hal yang sangat sulit. Kendati demikian, karena pertempuran ini telah memusnahkan ratusan ribu makhluk mayat hidup, kekuatan besar tersebut terkumpul oleh mercusuar. Saat ini, sebagian dari kekuatan itu dibagikan kepada Gu Feicang. Ia yang tadinya sudah berada di ambang terobosan, akhirnya kembali merasakan frekuensi fluktuasi sihir berkat penambahan kekuatan ini. Oleh karena itu, jiwa, kekuatan sihir, dan kekuatan mentalnya kembali berfluktuasi bersama elemen-elemen sihir, berniat untuk menyatu dengannya.
Pada saat ini, Gu Feicang sebenarnya sudah sangat kelelahan. Dari sudut pandang terobosan, kondisinya tidak begitu ideal. Namun di sisi lain, berkat kemenangan perang ini, meskipun mentalnya lelah, ia juga berada dalam kondisi yang sangat bersemangat, yang memiliki manfaat tertentu bagi keberhasilan terobosan.
Oleh karena itu, saat ini Gu Feicang berada dalam kondisi yang sangat ajaib. Di satu sisi, ia sangat lelah dan mengantuk; di sisi lain, ia sangat bergairah dan kekuatan mentalnya sangat aktif.
Dalam situasi seperti ini, kekuatan sihir dan kekuatan mental di dalam tubuhnya justru bagaikan sisi yin dan yang pada lambang taiji, saling terhubung dari ujung ke pangkal dan berputar satu sama lain. Di antara gerak dan diam, ia mencapai keseimbangan yang sangat halus. Pada saat yang sama, di dalam tubuhnya, beberapa jenis kekuatan mulai terungkap seiring dengan fluktuasi tersebut.
Pertama-tama, hal yang paling awal terungkap adalah sensasi dingin. Cahaya biru safir memancarkan hawa dingin yang pekat. Tak lama kemudian, sesumber vitalitas yang melimpah muncul, membawa rona hijau yang kental dan kekuatan alam yang sehangat angin musim semi, menyebar ke sekeliling. Menyusul setelahnya adalah aura ketajaman, bagaikan seorang raja yang turun takhta, samar-samar membawa kekuatan petir.
Kekuatan terakhir yang muncul adalah kekuatan yang terasa familier namun asing, bagaikan makhluk mayat hidup yang merangkak keluar dari kedalaman bumi, tetapi jauh lebih misterius dan mendalam daripada kekuatan tersebut.
Keempat kekuatan ini tampak mengelilingi kekuatan mental dan kekuatan sihir, terus menerus berputar dan bertransformasi. Untuk sesaat, sebuah kalimat terlintas di benak Gu Feicang: Taiji melahirkan dua unsur, dan dua unsur melahirkan empat manifestasi. Kekuatan mental dan kekuatan sihir bagaikan dua unsur taiji yang saling melengkapi. Pada saat yang sama, keempat kekuatan yang awalnya membuat Gu Feicang kebingungan itu akhirnya ia pahami; mereka adalah kekuatan yang masing-masing milik Adler, Roland, Catherine, dan Esther. Kekuatan dari keempat orang tersebut masing-masing menjelmakan elemen tanah, angin, air, dan api, yang merupakan empat kekuatan dasar di Dunia Sub-Sihir.
Seiring dengan perputaran dan evolusi dari kekuatan-kekuatan ini, Gu Feicang seketika merasakan fluktuasi elemen sihir di sekitarnya. Kekuatan sihir dan kekuatan mental di dalam tubuhnya juga mencapai keadaan seimbang satu per satu di tengah fluktuasi tersebut. Akhirnya, seiring dengan keempat cahaya yang berkilau di lautan spiritualnya, Gu Feicang merasakan seolah-olah ada sesuatu di dalam tubuhnya yang pecah. Kekuatan sihir yang pekat kembali meningkat pesat, seolah-olah dengan lambaian tangan saja, elemen sihir di sekitar dapat langsung berkumpul. Inikah ranah seorang Penyihir Agung?