Bab Tiga Belas: Legenda tentang Intrik dan Kepentingan Pribadi
Akhir-akhir ini Nyonya Du benar-benar merasa gelisah: hari itu ia sulit tidur, lalu memaksakan diri menyelesaikan banyak urusan, dan akhirnya jatuh sakit. Sakitnya pun berkepanjangan hingga lebih dari sepuluh hari. Karena Yuan Min'er sedang mengandung, ia sendiri yang meminta agar tak usah menjenguknya; putrinya, Feishuang, sejak kecil memang lemah, mana sanggup merawat orang sakit? Dulu, Murong Luoyan pasti akan datang menjenguknya berkali-kali dalam sehari hingga terasa merepotkan. Namun kini, perempuan itu benar-benar mengurung diri di halaman, tidak pernah keluar atau menanyakan kabar sedikit pun. Hal itu justru membuat Nyonya Du merasa kehilangan. Maka, ketika istri pengurus di Yuan Luoyun datang melapor bahwa Murong Luoyan ingin membeli juru masak sendiri, ia tanpa berpikir panjang hanya menyuruh untuk menunda dulu.
Bahkan Du Yuchen, yang selama sepuluh hari ini tidak melihat Murong Luoyan di ruang utama, tak tahan untuk bertanya. Setelah tahu bahwa kini ia benar-benar tak pernah keluar dari Yuan Luoyun, wajahnya pun tampak tak senang; dua hari kemudian, ia bertanya lagi, "Dia masih belum menjenguk Ibu?" Nyonya Du melihat wajah putranya menggelap. Meski hatinya juga tak nyaman, ia menimbang-nimbang dan tetap memilih ketenangan. Ia buru-buru berkata, "Kalau dia tak datang, aku justru merasa tenang. Jangan sampai kau malah membuat masalah."
Dua hari lalu, pagi-pagi, putrinya Feishuang dengan penuh rasa ingin tahu menyuruh semua pelayan keluar, lalu diam-diam bertanya, "Ibu, benarkah Murong Luoyan itu terkena guna-guna cinta?" Seketika Nyonya Du murka, "Dari mana kau mendengar omong kosong itu? Seorang gadis yang belum menikah, mana boleh bicara sembarang seperti itu?" Ia pun segera memerintahkan Mama Zheng untuk menyelidiki siapa yang menyebarkan kabar itu ke telinga putrinya.
Sejak kecil, Du Feishuang belum pernah dimarahi seperti itu, matanya pun memerah dan dengan kesal berkata, "Tak usah cari orang lain, aku sendiri tak sengaja mendengar para pelayan kecil bergosip di taman, lalu saat pulang aku menanyai Rusi, ternyata seluruh rumah sudah tahu! Untuk apa Ibu membujuk aku seorang saja?"
Nyonya Du sampai terbaring karena marah. Sakitnya kali ini memang membuat banyak urusan terbengkalai, tapi ia tak pernah menyangka gosip guna-guna cinta itu akan menyebar. Setelah Mama Zheng diam-diam mencari tahu, ternyata benar seperti kata Feishuang—tak ada satu orang pun yang tak tahu! Namun sebelum ia sempat mencari jalan keluar, tadi malam kakaknya, Nyonya Gao, mengirim pesan melalui pelayan kepercayaannya: di rumah Perdana Menteri pun semua orang membicarakan soal Putri Yan yang terkena guna-guna cinta; bahkan sang Perdana Menteri sendiri sudah tahu, mungkin saja kabar itu sudah sampai ke istana. Ia diminta untuk benar-benar bersiap.
Malam itu Nyonya Du gelisah tak bisa tidur, dalam hati bulat memutuskan, untuk sementara ia harus merangkul kembali Murong Luoyan, lebih baik bisa membujuknya tetap menjadi menantu keluarga Du. Jika nanti Kaisar memanggil, setidaknya ia takkan sembarangan mengadu. Tapi jika ia tak tahu diri, jangan salahkan jika ia harus bertindak tegas—ada saja cara agar seseorang tak bisa mengadu.
Memikirkan rencananya, senyum di wajah Nyonya Du semakin hangat. Begitu ia masuk ke ruang utama, Luoyan sudah lebih dulu menyambut dengan senyum. Baru setengah bulan tak bertemu, wajahnya tampak semakin segar, mengenakan baju biru batu sederhana yang agak lama, tanpa riasan sedikit pun, tanpa hiasan di kepala, hanya anting kecil seukuran butir beras di telinga, justru membuat kulitnya tampak makin putih berseri, pipinya merah muda, bagai mutiara berkilau di antara salju dan bunga plum di musim dingin. Nyonya Du sampai terpana.
Luoyan pun tersenyum, "Nyonya pagi-pagi sekali sudah datang. Jika ada keperluan, suruh saja Kakak Hongying memanggil, mana berani merepotkan Anda?" Sikapnya sama sekali tak terlihat angkuh seperti sebelumnya.
Nyonya Du buru-buru tersenyum, "Bukan apa-apa, hanya saja sudah beberapa hari tak melihatmu, ingin tahu bagaimana keadaanmu." Ia mengangguk dan berdecak kagum, "Wajahmu semakin berseri, bahkan warna biru batu pun tampak sangat cocok dipakai olehmu. Tak heran jika kau disebut sebagai wanita tercantik di Yan. Mereka bilang Min'er dan Feixia itu cantik, menurutku tak ada yang menandingimu."
Dalam hati, Luoyan waspada, tapi wajahnya tetap tersenyum lembut, "Nyonya benar-benar pandai bergurau." Ia mempersilakan Nyonya Du duduk di kursi utama, lalu menemaninya berbincang sejenak. Nyonya Du melirik sekeliling, Luoyan pun mengerti maksudnya dan segera menyuruh para pelayan membawa teh dan merapikan ruangan, hingga semua keluar dan Mama Zheng berjaga di luar pintu.
Nyonya Du menghela napas, "Beberapa hari ini aku memang sakit, jadi banyak hal yang terlintas di benak. Putraku keras kepala, Min'er manja, sedangkan aku sering sakit sehingga tak bisa mengurus semuanya. Dulu aku memang terlalu mengabaikanmu. Jika kau ingin bercerai dan pergi, itu wajar. Aku juga sudah memikirkannya, kalau memang begitu, lebih baik soal pengajuan surat cerai itu kita serahkan ke Kaisar saja, supaya kau bisa bebas. Nanti aku akan menghadiahkan dua tanah milik keluarga Du sebagai permintaan maaf kami."
Dalam hati Luoyan langsung waspada. Ia tak percaya seorang perempuan setangguh Nyonya Du bisa begitu rela melepaskan menantu tanpa pamrih. Jika hal itu sama sekali tak menguntungkan keluarga Du, mana mungkin ia akan setuju? Ia berpikir cepat, lalu tersenyum, "Nyonya begitu pengertian, aku berterima kasih. Hanya saja..." Ia menunduk dan menghela napas, "Beberapa hari ini aku pun banyak merenung. Selama tiga tahun ini, semua yang terjadi bukan sepenuhnya salah Tuan Muda dan Nona Yuan, aku sendiri yang menanggung akibatnya. Beberapa hari ini aku juga membaca kitab Sang Kaisar Yan, ada satu kalimat yang sangat mengena: 'Segala hal di masa lalu seolah telah mati kemarin, segala hal di masa depan bagaikan lahir hari ini.' Rasanya bagaikan siraman air segar ke dalam hati. Aku, Luoyan, sudah melupakan semua masa lalu, seolah pernah mati sekali. Kini bisa hidup tenang di keluarga Du sudah merupakan berkah, untuk apa mengingat hal-hal yang tidak perlu? Apakah dengan membuat keributan, aku akan kembali menjadi putri kerajaan Yan? Soal perceraian itu hanya emosi sesaat, dan belum tentu Kaisar menyetujuinya. Lagipula, dengan nama sepertiku, mungkinkah aku masih bisa menikah dengan keluarga yang lebih baik dari keluarga Du?"
Ia tersenyum lirih, "Mulai sekarang, mohon jangan lagi memanggilku putri, panggil saja namaku. Aku kini hanya orang yang berdosa di kerajaan Yan, tak pantas lagi disebut sebagai putri darah biru."
Nyonya Du diam-diam merasa lega, "Beberapa hari tak bertemu, dia rupanya sudah tahu menempatkan dirinya. Tapi ucapan saja belum cukup, masih harus dilihat tindakannya." Maka ia berkata, "Nak, jika kau sudah berpikir demikian, itu yang terbaik. Hanya saja, kudengar selama setengah bulan ini kau tak pernah keluar dari halaman, sebaiknya kau lebih sering berjalan-jalan."
Dalam hati Luoyan merasa sedikit berat. Maksudnya, ia harus melakukan penghormatan pagi dan malam? Tak mengapa, kabar dari Yan pun paling cepat baru akan ada tindakan satu sampai dua bulan lagi. Bagaimanapun, ia harus menunda waktu selama mungkin. Setelah memutuskan, ia pun tersenyum, "Sebenarnya aku hanya mendengar dulu sering membuat Nyonya dan Tuan Muda marah, makanya aku sengaja menutup diri di halaman. Aku juga melarang para pelayan keluar, tak ingin tahu urusan di luar. Kalau Nyonya tak keberatan, nanti aku akan sering datang menemani Nyonya—hanya saja, aku pernah bersumpah membacakan doa untuk ibunda selama sebulan, baru setengah bulan berlalu..."
Nyonya Du tahu benar, beberapa hari ini Luoyan memilih makan sayur (di Dali saat itu makanan utama adalah daging kambing, tapi Luoyan yang rewel memilih makan sayur saja. Karena khawatir kekurangan protein, ia banyak makan telur kukus dan bubur kacang). Ia juga mengurung diri di kamar, Lanye dan Guihua pun tak boleh masuk, tapi mereka tahu setiap hari harus menyediakan air panas tiga kali di kamar utamanya—konon orang Yan jarang mandi, kecuali saat membaca doa. Jadi, alasan membaca doa itu bukan bohong. Nyonya Du hanya butuh sikap Luoyan, tak terburu-buru soal waktu. Ia mengangguk, "Aku hanya khawatir kau bosan. Kalau memang membaca doa, tambah setengah bulan lagi pun tak apa. Anak berbakti sepertimu kini jarang ditemukan."
Luoyan sendiri tak tahu bahwa kebetulan ucapannya membuat Nyonya Du puas. Melihat ekspresi Nyonya Du, ia tahu dirinya sudah lolos ujian, maka ia tersenyum, "Terima kasih, Nyonya." Namun Nyonya Du berpikir sejenak, lalu berkata, "Ada satu hal lagi, tentang putraku... Sebenarnya dia itu anak yang setia, hanya saja keras kepala. Dulu kau belum tahu wataknya, jadi sering bertengkar, lama-lama makin renggang. Aku sudah tua, tak ingin melihat kalian terus-menerus bersitegang. Dulu dia tak tahu kebaikanmu, nanti akan aku bicarakan dengannya. Luoyan, kau juga jangan marah padanya."
Tubuh Luoyan menegang, dalam hati ia mengumpat, "Sial!" Ia berpikir cepat, lalu berkata, "Soal masa lalu, aku sudah lupa. Kini, semua orang terasa asing bagiku. Nyonya selalu memperlakukanku dengan baik, jadi aku bisa sedikit leluasa, tapi Tuan Muda tampak tak senang saat bertemu denganku. Aku tak berani marah, tapi juga tak tahu harus bersikap seperti apa. Mungkin Nyonya bisa mengajari aku?"
Nyonya Du sedikit tak senang, namun ia sadar hal itu tak bisa dipaksakan—ia sendiri tahu bagaimana anaknya bersikap setiap kali bertemu Murong Luoyan. Baiklah, urusan ini harus dimulai dari pihak putranya. Jika mereka benar-benar rukun, gosip apa pun akan hilang dengan sendirinya. Ia pun menepuk tangan Luoyan, "Anak baik, semua salah dia, biar ibu yang menegurnya. Tapi satu hal, kalau dia sudah sadar dan mau berubah, kau juga harus memberinya kesempatan."
Tubuh Luoyan merinding, dalam hati ia membatin, "Tenang saja, aku pasti punya cara agar putramu itu tak sempat memperbaiki apa pun!" Namun wajahnya hanya tersenyum malu dan menundukkan kepala.
Nyonya Du tertawa, lalu berkata, "Kudengar dari pengurus di halamanmu, kau ingin membeli juru masak sendiri. Aku sudah mencarikan untukmu, jangan khawatir, pasti akan aku pilihkan yang terbaik." Setelah berkata demikian, ia pun bangkit dan perlahan berjalan keluar, Luoyan segera berdiri dan mengantarkan sampai ke luar Yuan Luoyun.
Kali ini Nyonya Du benar-benar menepati janji. Tak lama kemudian, keluarga Du Fan membawa seorang juru masak, katanya Nyonya Du berhasil menemukan seorang juru masak yang pandai memasak masakan Yan dari pedagang budak, sebelumnya bekerja di rumah makan besar dan sangat terampil. Luoyan hanya diam, memperhatikan Qingqing dengan seksama, dan melihat seberkas cahaya tajam melintas di matanya.