002: Asal Mula
Ibunya telah tiada?
Kepala Shi Qiu seolah meledak, ia merasakan duka yang membanjir dari dalam tubuhnya—seperti air bah yang menerobos bendungan, atau letusan gunung berapi yang tak terbendung. Seluruh kekuatannya tersedot habis, tubuhnya kosong tanpa daya, dan keputusasaan menelannya seperti rawa, membuatnya perlahan-lahan terbenam dalam lumpur, seluruh tubuhnya dingin membeku, napas pun tercekat.
Itulah sisa penyesalan milik Zisu, itulah duka Zisu, dan Shi Qiu merasakannya seakan miliknya sendiri.
Awalnya, ia ingin memanfaatkan status seorang kultivator tahap Yuan Ying sebagai pelindung agar Lu Guizhen segan dan memberinya waktu untuk melarikan diri. Namun, siapa sangka, justru kabar buruk inilah yang ia terima! Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Jika bukan karena putri kesayangannya tewas dengan tragis, ibumu takkan sampai kehilangan kendali dan mengalami penyimpangan dalam kultivasinya." Lu Guizhen terkekeh, melihat wajah kecil Zisu yang dipenuhi kepedihan dan matanya yang redup tanpa cahaya. Ia menjulurkan lidah, menjilat daun telinga Shi Qiu, "Aku suka kau yang seperti ini. Sejak pertama kali bertemu, aku selalu teringat dirimu. Untung saja kakak seperguruanmu punya niat baik, akhirnya aku bisa merasakan apa yang aku inginkan." Ia lalu mencengkeram pipinya, "Jika kau melayaniku dengan baik dan membuatku senang, bagaimana jika kubantu membalaskan dendammu?"
Selesai berkata, ia menjentikkan jari. Begitu suara jentikannya terdengar jelas, Shi Qiu menyadari tubuhnya bisa kembali bergerak.
Ia hanya sedikit meluruskan tubuh, menggerakkan tangan dan kakinya tanpa melakukan perlawanan berlebihan.
Melihat Shi Qiu tidak memberontak dengan sengit, Lu Guizhen mengangguk puas. Tampaknya gadis ini sudah kehilangan sandaran, dan hendak bergantung padanya untuk membalas dendam atas kematian ibunya. Kalau begitu, ia harus menikmati kesempatan ini sebaik-baiknya. Tangannya diletakkan di lekuk leher Shi Qiu, ia menundukkan kepala menghirup wangi rambut panjangnya, lalu menempelkan pipinya ke wajah Shi Qiu.
"Bagus, begini baru penurut." Ia bergumam pelan, menidurkan gadis itu di ranjang, lalu dengan jemari menggoda mengusap sudut bibirnya. Aroma parfum pemikat semakin pekat, matanya mulai diliputi kabut nafsu. Ia membelah pakaian Shi Qiu hingga melorot ke bahu, kain kelambu ungu tua di ranjang berukir berterbangan tertiup angin bagaikan daun teratai yang menghampar di bawah langit malam.
Tubuh Shi Qiu demam, tetapi pikirannya tetap sangat jernih. Seorang kultivator sesat yang bahkan tak sudi melepaskan mayat pun, mana mungkin akan bersikap lembut atau benar-benar membantu membalas dendam? Di balik wajah tampan dan memikat itu, tak terbayang betapa mengerikan niat jahat yang tersembunyi!
Saat Lu Guizhen lengah, Shi Qiu mengumpulkan seluruh energi spiritualnya di lutut. Ia menekuk lututnya dan menghantamkan keras-keras ke bawah perut Lu Guizhen. Tubuh pria itu langsung kaku, wajahnya memucat, dan topeng kelembutannya menghilang, digantikan oleh raut penuh kebengisan.
Shi Qiu tergesa-gesa berlari menjauh sejauh satu zhang, namun detik berikutnya ia kembali tak bisa bergerak.
Perbedaan kekuatan terlalu jauh. Perlawanannya hanya seperti belalang melawan kereta, benar-benar lucu di mata Lu Guizhen.
"Zisu, kau mencari mati!"
"Perempuan jalang!" Wajah Lu Guizhen yang cantik hingga sulit dibedakan jenis kelaminnya kini berubah bengis. Di tangannya muncul cambuk bambu hijau berkilauan, dan dengan ayunan keras, cambuk itu mendarat di punggung Shi Qiu dengan suara keras, membuat kulitnya robek, serpihan pakaian duka hitam menancap di luka cambuknya.
Rasa sakit itu tak tertahankan, Shi Qiu meraung menangis, air mata membasahi wajahnya.
Semumur hidup, ia belum pernah mengalami siksaan seperti ini. Luka di punggungnya terasa membara, menyiksa hingga ke relung hati, ia bahkan ingin menguliti daging di punggungnya sendiri! Namun ia belum sempat mengatur napas, cambukan kedua Lu Guizhen sudah menyusul.
Kali ini tenaganya sedikit berkurang, tetapi di cambuk bambu itu muncul barisan duri tajam yang mengoyak bahu Shi Qiu hingga berdarah dan mengoyak pakaiannya. Sekali ditarik, setengah tubuhnya pun terbuka.
Shi Qiu hanya mengenakan jubah duka sederhana, yang seketika berubah menjadi kain perca di bawah serangan Lu Guizhen. Kepalanya sudah limbung, rasa sakit membuatnya hampir tak mampu berpikir, tak bisa lari, tak bisa bergerak, bahkan suaranya pun habis. Tubuhnya bergetar hebat, bagaikan daun kering yang diterbangkan angin dingin, terombang-ambing tanpa sandaran.
Lu Guizhen mendekat, tangannya menekan bahu telanjang Shi Qiu dengan sengaja melukai luka itu, lalu menelusuri lengan, sementara napas panasnya terus-menerus berhembus di leher dan bahu, membuat perut Shi Qiu mual hebat hingga beberapa kali muntah kering.
Darah pun keluar dari tenggorokannya.
Shi Qiu tak sanggup membayangkan siksaan keji apa lagi yang akan ia alami. Dalam ingatan Zisu, kelicikan dan kebejatan Lu Guizhen sungguh membuat siapa pun ketakutan. Rasa sakit dan takut terus menerus menyiksa batinnya yang rapuh, hingga Shi Qiu tanpa sadar menggigit lidahnya sendiri dengan keras.
Sakit, sangat sakit, lebih sakit dari luka punggungnya. Namun, ia tetap gagal mengakhiri hidup dengan cara itu.
Apa yang harus ia lakukan?
Ketika ia hampir hancur dan putus asa, tiba-tiba tangan Lu Guizhen berhenti.
Tubuh Lu Guizhen bergetar, terhuyung mundur puluhan langkah. Ia mengangkat tangan, dan di punggung tangannya muncul titik darah merah, luka kurang dari setengah inci itu menembus pelindung tubuhnya, bahkan menembus telapak tangannya!
Itu adalah energi pedang!
Aura spiritual Lu Guizhen segera meluap, cambuk bambunya meliuk-liuk seperti ular hidup, terlepas dari genggamannya dan berdiri di bahu, kepala ular menjulurkan lidah, bergerak mencari arah, akhirnya terkunci pada satu titik.
Saat ia hendak menyerang, dari belakang muncul kegaduhan, tampak serangan dari dua arah.
"Iblis cabul, mau lari ke mana!" teriak seorang perempuan.
Cahaya pedang berkilau bagai jatuh dari langit, melesat seperti meteor, menciptakan garis lengkung di angkasa. Pedang terbang melilit Lu Guizhen seperti ular, membuat wajahnya berubah drastis. Ia menghentakkan kaki, dan dari sepatu hitamnya mengepul asap hitam. Pada saat yang sama, asap dupa dari empat tiang ranjang pusaka yang sebelumnya ia keluarkan, seolah tertarik kekuatan tak kasatmata, mendekat ke arah asap hitam.
Perempuan berjubah hijau yang muncul itu tampak terkejut, "Awas, itu dupa penghangus jiwa." Sebelum datang, mereka sudah minum pil penawar untuk berjaga-jaga dari tipu daya si iblis cabul Lu Guizhen, tapi tak disangka, pria itu membawa dupa penghangus tubuh yang sangat langka. Bahannya utama adalah rumput api tingkat tujuh, biasanya digunakan untuk membuat pil peningkat potensi yang sangat mahal. Lu Guizhen malah menggunakannya untuk membuat dupa pemikat, sungguh keterlaluan!
Pedang terbang perempuan hijau itu menari rapat, membentuk perisai di depannya. Dupa penghangus tubuh itu pun tak menemukan celah, tertiup angin pedang ke sekitar Shi Qiu. Sejak awal ia sudah menahan napas, namun sia-sia saja. Aroma dupa itu manis, lengket seperti madu, menempel di tubuhnya, membuat kesadarannya makin kabur.
Samar-samar ia mendengar suara perempuan tadi, "Sial, dia berhasil lolos lagi!"
"Lalu, bagaimana dengan gadis ini?"
"Dia sudah terkena dupa penghangus tubuh. Jika tak melakukan kultivasi ganda dengan laki-laki, energi spiritual dan meridian tubuhnya akan hangus, dan selanjutnya ia akan jadi manusia tak berguna. Untung saja kultivasinya rendah dan bakatnya biasa saja, penderitaannya pun akan lebih sedikit."
"Guru, bagaimana kalau kita carikan saja pria untuknya?" suara perempuan yang agak muda terdengar ragu.
"Jangan sembrono! Orang Sekte Pedang Salju tak mungkin berbuat seperti itu. Di depan ada danau, rendam dia di sana supaya rasa sakitnya berkurang."
Kepala Shi Qiu terasa semakin berat, tubuhnya panas, lemas tak berdaya, kosong dan hampa. Ia merasa tubuhnya diangkat dan dilempar ke air dingin, panas di tubuhnya sedikit berkurang, tapi masih jauh dari cukup. Tenggorokannya mengeluarkan rintihan lemah, wajahnya sangat kesakitan.
Api itu semakin membara, membakar tubuhnya inci demi inci, seakan-akan jiwanya pun tak luput, hangus jadi abu. Entah berapa lama berlalu, tubuhnya semakin sakit, namun kesadarannya justru makin jelas.
Shi Qiu melihat dengan nyata, dalam pikirannya ada sebuah bola emas. Begitu melihat bola itu, Shi Qiu tahu namanya—Mutiara Asal Usul.
Benda inilah yang jatuh dari langit di jalan berliku, menyebabkan kecelakaan dan membuatnya menyeberang ke dunia ini.
Kini, bola itu berada di otaknya—menurut istilah Zisu dan orang-orang di sini, posisi Mutiara Asal Usul itu ada di lautan jiwa atau dantian-nya. Shi Qiu melihat jelas, tubuhnya kini laksana daun kering, meridian seperti urat daun yang menguning, dan tak ada sedikit pun energi spiritual. Seperti kemarau panjang, semuanya tandus dan gersang.