Bab Empat Belas: Hanya Saat Itu Sudah Terasa Hampa
“Kata persahabatan dan loyalitas paling mampu membutakan hati manusia, membuatnya tak mampu membedakan mana yang benar dan salah, siapa yang setia dan siapa yang berkhianat. Kau adalah adik angkat Zhao Kuangyin, berpihak kepadanya pun tak ada yang salah.” Li Hongji duduk di samping sebuah meja persegi, mengangkat cangkir teh yang dibawakan penjaga penjara untuk membasahi tenggorokannya, “Aku tak ingin banyak bicara denganmu, hanya ada satu hal yang ingin ku minta bantuanmu.”
Zhao Jingniang tersenyum sinis, “Kau ingin menggunakan aku untuk mengancam kakak angkatku?”
“Aku menghormatimu sebagai wanita tangguh. Asal kau mau menulis sepucuk surat untuk Zhao Kuangyin, membujuknya agar mengutamakan nyawa seratus ribu rakyat Kota Shou dan tidak memulai peperangan, aku tidak akan menyulitkanmu.”
“Jangan bermimpi, aku takkan membantumu!”
Tatapan Li Hongji menjadi dingin, “Zhao Jingniang, kau benar-benar tak takut mati?”
“Jika aku takut mati, aku takkan datang untuk membunuh dewi kalian!”
Watak Zhao Jingniang keras kepala. Li Hongji tahu mustahil membuatnya berkompromi, maka ia tak membuang-buang kata lagi dan memerintahkan orang untuk menyeretnya pergi.
Keluar dari penjara bawah tanah, wajah Li Hongji tampak muram. Liu Renshan tertawa, “Kalaupun Zhao Jingniang bersedia menulis surat, Zhao Kuangyin pun belum tentu akan menarik mundur pasukannya demi seorang wanita. Kenapa Tuan begitu marah karenanya?”
“Aku pun tak berharap sepucuk surat dari Zhao Jingniang bisa membujuk Zhao Kuangyin menarik mundur pasukan. Aku hanya ingin Zhao Kuangyin tahu, adik angkatnya ada di tanganku, agar ia menjadi ragu dan tidak bertindak gegabah.”
“Itu mudah saja. Suruh seseorang ke perkemahan Zhou untuk mengabarkan, Zhao Kuangyin pasti tahu adik angkatnya ada di penjara Kota Shou.”
“Hanya saja tanpa surat tulisan tangan Zhao Jingniang, Zhao Kuangyin belum tentu percaya.” Li Hongji menoleh menatap Liu Renshan. Ia tahu Liu Renshan yang menjaga kota penting Shou pasti punya siasat, tak pernah ia remehkan jenderan kawakan satu ini.
“Kalau Zhao Kuangyin tak percaya, kita bisa seret Zhao Jingniang ke gerbang utara, biar Zhao Kuangyin sendiri yang melihat.”
“Menurut Jenderal Tua Liu, siapa yang cocok pergi ke perkemahan Zhou?”
“Wakil Inspektur Pertanian, Sun Yu.”
“Bagaimana kepandaiannya bicara?”
“Tak terlalu pintar, juga tak dungu, biasa saja.”
Li Hongji mengangguk pelan, “Pakai dia saja.”
Lin Niaoniao sangat bingung, “Mengapa urusan sepenting ini tidak memilih orang yang pandai bicara?”
Liu Renshan tertawa, “Kalau utusan yang pandai bicara dikirim ke perkemahan Zhou, Zhao Kuangyin akan curiga, mengira kita menipunya, pasti ada tipu muslihat. Tapi kalau utusannya biasa-biasa saja, Zhao Kuangyin bisa menurunkan kewaspadaan, bahkan menganggap kita kekurangan orang di Kota Shou.”
Lin Niaoniao diam-diam kagum. Logika seperti ini belum pernah ia dengar sebelumnya. Liu Renshan memang bukan orang sembarangan, pikirannya tajam, benar-benar seperti seekor rubah tua.
…
Noda tinta di atas kertas belum kering, Zhang Qiong membacanya dengan saksama. Walau biasanya ia tak mengerti sastra, ia pun tahu itu jelas sebuah puisi perpisahan menuju kematian:
Kecantikan anugerah langit tak bertemu zaman,
Ditindas dan dihina orang.
Malam ini mati demi Tuan,
Biar dunia tahu kesucian kita berdua.
Zhang Qiong bingung, menoleh ke arah Zhao Kuangyin yang duduk di dipan Maitreya, “Di saat kedua pasukan saling berhadap-hadapan, mengapa Tuan menulis puisi sialan seperti ini?”
“Itu adalah puisi peninggalan seorang sahabat lama.”
Zhang Qiong kembali membaca puisi kematian itu, seolah-olah tulisan tangan wanita, “Jangan-jangan... itu wanita yang selama ini tak pernah Tuan lupakan, adik angkat Tuan itu?”
Zhao Kuangyin mengangguk pelan, “Itu kejadian lima tahun silam. Di Kuil Jin di Taiyuan, aku menyelamatkan Jingniang dari dua perampok, lalu mengantarnya pulang ke Pu Zhou. Sepanjang perjalanan, kami saling menjaga kesopanan, menganggap diri sebagai kakak-adik, tapi aku lupa, di zaman yang dingin ini, gosip bisa membunuh orang. Saat itu, aku hanya ingin meraih prestasi dan cita-cita, menolak keinginan keluarganya yang hendak menjodohkannya denganku, dan itu membuatnya kecewa. Setelah aku pergi, baru kutahu, demi membuktikan kesuciannya denganku, ia gantung diri. Puisi ini ia tinggalkan di dinding, dan pernah aku suruh orang menyalinnya untukku.”
“Tuan, kini ia sudah tiada, kenapa Tuan masih terus mengenangnya?”
“Zhang Qiong, percayalah, di dunia ini ada rasa yang tidak bisa dilenyapkan oleh ruang dan waktu, tidak bisa dipisahkan oleh hidup dan mati.”
Zhang Qiong menggaruk kepala. Ia adalah pengawal pribadi Zhao Kuangyin, sudah dua tahun menemaninya, tapi selalu saja ada satu dua ucapan Tuan-nya yang tak ia mengerti.
Saat itu, perwira pembantu Yang Xin tiba-tiba masuk tergesa-gesa, “Jenderal, celaka! Inspektur Militer menangkap utusan dari perkemahan Tang!”
“Kapan utusan dari Tang datang? Zhang Qiong, cepat ikut aku lihat!” Zhao Kuangyin melompat turun dari dipan Maitreya.
…
Wakil Inspektur Pertanian Kota Shou, Sun Yu, tengah diikat erat, berlutut di dalam tenda Inspektur Militer. Ketika mendongak, ia terkejut karena inspektur militer di perkemahan Zhou ternyata seorang gadis. Berpakaian sederhana tanpa riasan, namun alisnya melengkung indah, mata bulat jernih, bibir mungil merah, benar-benar cantik luar biasa.
“Sejak dulu dua pasukan yang berperang tak pernah membunuh utusan. Begitukah cara kalian memperlakukan utusan?” Sun Yu geram.
Gadis itu mengangkat alis, “Aku tak bilang mau membunuhmu, hanya ingin memberimu dua ratus cambuk! — Bawa keluar!”
Sun Yu menjerit dalam hati. Tak pernah ia bayangkan ada gadis kasar semacam itu di perkemahan Zhou. Dua ratus cambuk, mana mungkin ia selamat? Mati dicambuk atau mati dipenggal, lebih baik dipenggal saja, biar penderitaan segera berakhir.
Saat dua prajurit hendak menyeretnya, tiba-tiba terdengar teriakan lantang dari luar tenda, “Berhenti!”
Zhao Kuangyin bersama Zhang Qiong dan Yang Xin masuk ke dalam. Zhao Kuangyin menatap gadis itu, “Yuan’er, kau berbuat ulah lagi!”
Cai Xueyuan manyun, “Kakak kedua, aku hanya membalaskan dendam kakak ketiga, kenapa dibilang membuat ulah?”
“Siapa yang mengizinkanmu menyiksa utusan seenaknya?!”
“Aku ini inspektur militer, memukulnya beberapa kali pun tak boleh?” jawab Cai Xueyuan dengan kesal.
Zhao Kuangyin pusing dibuatnya. Cai Xueyuan adalah adik kandung kakak angkatnya, Raja Jin, bernama Cai Rong. Sifatnya manja, keras kepala, dan sangat disayang Kaisar, sampai diberi gelar Adipati Yao Hua. Saat Zhao Kuangyin berangkat ke selatan, ia mengikuti dengan penuh semangat. Reaksi Zhao Kuangyin tentu saja: ulah. Tapi ia lalu membujuk Kaisar dan akhirnya diberikan jabatan Inspektur Militer.
Zhao Kuangyin sendiri yang melepas ikatan Sun Yu, “Boleh tahu siapa nama Tuan?”
“Sun Yu, Wakil Inspektur Pertanian Kota Shou.”
“Jadi Tuan Sun, maaf atas perlakuan ini.”
Sun Yu menangkupkan tangan, “Tak berani.”
Zhao Kuangyin memerintahkan agar diadakan jamuan penyambutan untuk Sun Yu di dalam tendanya. Ia duduk di kursi utama, para jenderal penting Zhou hadir, di kedua sisi barisan prajurit lengkap bersenjata, auranya mencekam. Zheng En baru saja tewas secara misterius, seluruh perkemahan Zhou masih dipenuhi amarah. Sun Yu sadar, semua ini hanya untuk menekannya.
Setelah bersulang, Zhao Kuangyin masuk ke pokok pembicaraan, “Apa tujuan Tuan Sun datang kemari?”
“Atas perintah Yang Mulia Pangeran Yan dari Tang, aku datang membawakan sepucuk surat untuk Jenderal.”
Sun Yu mengeluarkan sepucuk surat, Zhang Qiong menerimanya dan menyerahkannya pada Zhao Kuangyin.
Begitu surat dibuka, wajah Zhao Kuangyin berubah, “Adik angkatku, Zhao Jingniang, sekarang ada di penjara Kota Shou?!”
“Benar.”
Cai Xueyuan menghentak meja, “Dasar penjahat Tang, bicara ngawur! Jingniang sudah lama mati!”
Panglima depan perkemahan Zhou, Fan Ainen, sudah mencabut pedang, “Penjahat Tang, berani mempermainkan Jenderal?!”
Zhao Kuangyin memberi isyarat agar Fan Ainen menyarungkan kembali pedangnya, lalu menatap Sun Yu, “Adik angkatku masih hidup?”
“Besok pagi, Yang Mulia Pangeran Yan akan membawa Zhao Jingniang ke atas gerbang utara Kota Shou. Jika Jenderal tak percaya, silakan datang dan melihat sendiri.”