Bab Empat Puluh Tujuh: Membunuh Serigala dan Menghancurkan Langit
Menjelang fajar, akhirnya mereka turun gunung. Sampai di kaki gunung, mereka melihat sebongkah batu nisan tua dengan tiga aksara kuno yang terukir: “Gunung Dewa Serigala.”
Di kaki gunung, membentang sebuah jalan setapak kuno yang entah menuju ke mana. Su Hundat begitu takut dikejar kawanan serigala sehingga tak berani berhenti, terus melanjutkan perjalanan. Kaki Wanar sudah begitu lelah dan sakit, ia meraung-raung meminta istirahat, namun Su Hundat sama sekali tidak menggubrisnya, sedangkan Lin Nyaonyao seolah-olah tidak mendengar.
Akhirnya, Wanar duduk begitu saja di tanah. “Aku tak mau jalan lagi!”
Lin Nyaonyao hanya berkata, “Apa kau mau diculik serigala?”
“Kalau memang begitu, ya sudah! Aku benar-benar sudah tak sanggup lagi!”
“Baiklah, kalau semangatmu memang seberani itu, aku hanya bisa mendoakanmu!” Lin Nyaonyao tak menghiraukannya dan terus berjalan. Melihat itu, Wanar buru-buru bangkit, berlari mengejar. “Kakak Lin, kenapa sih kau tak peka sedikit saja?!”
“Lalu harus bagaimana supaya dibilang peka?”
“Aku mau kau gendong aku!”
“Mimpimu tinggi juga!” Sungguh, meski tubuh Wanar tidak berat, ia sendiri bukan laki-laki kekar yang kuat. Dia hanya seorang gadis, mana sanggup? Apalagi mereka harus berjalan semalaman tanpa henti, sudah lelah setengah mati. Bukan hanya menggendong seseorang, membawa ransel saja rasanya tulang-tulang sudah mau remuk.
“Pokoknya, aku mau kau gendong!” Wanar terus menarik-narik ujung bajunya, tak mau menyerah.
“Suruh saja si Hundat Su itu gendong kau!”
Wanar melirik Su Hundat dengan jengkel. “Tidak mau, dasar bajingan mesum!”
Su Hundat tak tahan membela diri. “Hei, kenapa kau selalu memanggilku bajingan mesum? Tolong dijelaskan, kapan aku pernah berbuat mesum padamu?”
“Huh, jangan kira aku tidak tahu isi kepalamu! Pasti dari dulu kau sudah menaksir kecantikanku, hanya saja belum dapat kesempatan!”
“Aku peringatkan, kau boleh menghina kepribadianku, tapi jangan hina seleraku!”
“Hei! Maksudmu apa? Apa aku ini tak pantas untukmu?” Wanar mendelik marah dan langsung maju ingin adu mulut dengan Su Hundat.
Lin Nyaonyao tak habis pikir, apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba jadi soal pantas atau tidak pantas?
Tiba-tiba, dari barisan belakang, Ji Yaufa berseru, “Serigala datang!”
Su Hundat dan Wanar serempak menghentikan pertengkaran, menoleh ke belakang. Sekelompok serigala abu-abu muncul dari balik pepohonan. Mereka tidak langsung menyerang, hanya menatap mereka dengan penuh ancaman.
Lin Nyaonyao berkata cemas, “Sekarang bagaimana?”
Tangan kanan Su Hundat tiba-tiba memunculkan dua bilah pisau lempar bermata daun. “Kalian duluan saja!”
Ji Yaufa kembali berteriak, “Di depan juga ada serigala!”
Entah sejak kapan, di tikungan jalan di depan, muncul seekor serigala putih, persis sama dengan yang semalam dibunuh Su Hundat. Kalau saja Su Hundat tidak yakin dengan keahliannya menggunakan pisau, ia pasti mengira serigala yang ia bunuh telah bangkit kembali. Lebih aneh lagi, di punggung serigala itu duduk seorang gadis remaja, usianya sekitar empat belas atau lima belas tahun, seluruh penampilannya seperti manusia purba. Lin Nyaonyao langsung teringat tokoh San dari “Putri Mononoke”, melihat gadis itu berselimut kulit binatang, rambut hitamnya menjuntai hingga pinggang, lehernya dihiasi kalung dari taring berbagai hewan, tangan kanannya menggenggam tombak panjang, dan matanya menatap mereka dengan kebuasan yang menakutkan.
Su Hundat terpana. “Aku pernah dengar dari kakakku, di Gunung Dewa Serigala ada seorang gadis serigala, pemimpin kawanan serigala. Ternyata benar adanya.”
Gadis serigala itu tiba-tiba menengadah ke langit, melolong dua kali. Seketika, kawanan serigala abu-abu di belakang mereka bergerak cepat mendekat. Wanar ketakutan sampai lupa akan perselisihan dengan Su Hundat, langsung bersembunyi di belakangnya. Su Hundat melemparkan dua pisau sekaligus, dua ekor serigala abu-abu roboh seketika, sisanya menjadi gentar, serangan mereka melambat, hanya mengepung perlahan.
Su Hundat memperhatikan kawanan itu, ternyata jumlahnya hampir seratus ekor. Andai mereka menyerbu sekaligus, mustahil ia bisa menahan. Namun Ji Yaufa mengeluarkan seruling pendek dari tulang putih dari kantung di pinggangnya, meniup lembut. Irama yang terdengar kadang merdu, kadang berat, nadanya aneh dan asing. Tak lama, suara desis datang dari segala arah—ular-ular bermunculan tanpa henti, sebagian besar berkepala segitiga, jelas ular berbisa.
Bau amis menyengat dari ular-ular itu membuat Lin Nyaonyao dan Wanar mual, mereka sampai muntah-muntah di tanah. Ji Yaufa segera mengeluarkan dua pil hitam dan memberikannya pada mereka, aromanya busuk luar biasa. Dengan terpaksa mereka menelannya, dan rasa mual pun hilang total. Su Hundat, yang kebal terhadap racun, tentu tidak butuh pil itu, tapi melihat begitu banyak ular berbisa, wajahnya pun sempat berubah tegang, apalagi Lin Nyaonyao dan Wanar yang ketakutan setengah mati.
Kawanan serigala mulai panik. Mengiringi lantunan seruling Ji Yaufa, ular-ular itu menegakkan tubuh, menari-nari di tempat. Lin Nyaonyao terkejut dalam hati. Ia pernah membaca kisah Oey Yongke mengendalikan ular dalam “Pendekar Pemanah Rajawali,” tapi baru kali ini mengalaminya sendiri. Jantungnya berdebar kencang. Suara seruling berubah tajam, seperti pedang menembus langit, dan mendadak ular-ular itu menyerang.
Walau serigala-serigala itu ganas, berhadapan dengan ular yang merayap di tanah, mereka tak bisa memanfaatkan keunggulan sebagai hewan besar, barisan mereka pun kacau. Namun kawanan serigala sangat terlatih, selama pemimpin belum memerintah mundur, mereka tak akan menyerah. Bisa ular-ular itu bermacam-macam, ada yang sekali gigit membuat serigala tewas seketika, ada yang hanya menimbulkan rasa sakit tanpa membunuh.
Pertarungan serigala dan ular itu menegangkan. Su Hundat berpikir, untuk menangkap musuh, tangkap dulu pemimpinnya. Ia menghunus satu lagi pisau lempar, tubuhnya menerjang ke arah gadis serigala. Seekor serigala abu-abu meloncat dari samping, namun sekali tebas, pisau Su Hundat langsung menewaskannya. Gadis serigala tak mau kalah, melompat bersama serigala putihnya, menusukkan tombak ke dadanya. Su Hundat sedikit mengelak, melompat ke depan dan berusaha menariknya turun dari punggung serigala.
Tak disangka, gadis serigala itu sangat kuat, ia mendorong Su Hundat hingga terpental, lalu bangkit, menusukkan tombak lagi. Su Hundat memiringkan badan, pisaunya dengan cepat melukai pergelangan tangan gadis itu. Ia menjerit kesakitan, tombaknya terlepas.
Su Hundat menodongkan pisau ke lehernya, berseru, “Cepat perintahkan kawanan serigala mundur!”
Serigala putih itu ingin menyerang, tapi melihat gadis serigala ditawan, ia hanya mengelilingi Su Hundat dengan waspada.
Gadis itu menatap Su Hundat dengan penuh permusuhan, berteriak keras dalam bahasa asing. Sejak kecil ia tumbuh bersama kawanan serigala, hampir tak pernah berjumpa manusia, jadi tak bisa berbahasa manusia.
Su Hundat tak mengerti sedikit pun, lalu membentak, “Bicara yang bisa dimengerti!”
Namun gadis itu tetap berteriak dalam bahasanya, bahkan menjilat luka di pergelangan tangannya, darah tampaknya membangkitkan semangatnya, wajahnya tampak bersemangat.
Su Hundat membentak lagi, “Hei, kau ini sedang kutawan, bisa tidak bersikap serius? Kalau tidak mau perintahkan serigala mundur, percaya tidak aku akan membunuhmu?!”
Gadis itu tetap tanpa ekspresi.
Su Hundat mengancam, “Kau percaya tidak kalau aku perkosa kau?”
Tetap tak ada reaksi.
Su Hundat mulai frustrasi, “Kau percaya tidak kalau aku bunuh, lalu perkosa, bunuh lagi, perkosa lagi?!”
Tiba-tiba gadis serigala itu bertingkah gila, langsung menggigit lengan Su Hundat sekuat tenaga. Su Hundat menjerit, menepisnya, lalu menendang gadis itu hingga terpelanting.