Ketika Yun Lu bertemu dengan Li Mo
“Di mana Nona Besar?”
Yun Zhen melemparkan mantel tebal yang dikenakannya kepada Meng Xiaotong, lalu langsung bertanya pada seorang pelayan yang menyambutnya.
Pelayan itu bernama Hong Ge, bertubuh ramping dan bahu mungil, memiliki paras yang cukup elok, hanya saja wajahnya selalu terlihat muram.
“Tuan Muda akhirnya pulang. Nona Besar masih tinggal di Paviliun Ning Cui.”
Belum selesai ia berbicara, Yun Zhen sudah melangkah cepat menuju Paviliun Ning Cui. Gerakannya gagah dan langkahnya panjang, sehingga Hong Ge harus berlari kecil untuk mengikutinya.
“Bagaimana keadaan Nona Besar sekarang?”
“Saat hamba menulis surat pada Tuan Muda, Nona Besar sudah tiga hari tidak makan. Hamba khawatir terjadi sesuatu, kemarin terpaksa memaksa beliau minum semangkuk bubur sarang burung, tapi juga dimuntahkan semua. Jika Tuan Muda tidak segera pulang, hamba takut…” Hong Ge tak berani meneruskan.
Wajah Yun Zhen membeku seperti bongkahan es.
Mereka berjalan sangat cepat, sebentar saja sudah tiba di Paviliun Ning Cui.
Perayaan Tahun Baru Kecil sudah lewat, sebentar lagi malam pergantian tahun, namun suasana di Paviliun Ning Cui tetap sunyi dan dingin, seolah-olah masuk ke dalam gua es. Setelah masuk ke dalam, ternyata penghuni di dalamnya cukup banyak.
Ada empat pelayan mondar-mandir, namun wajah mereka semua dipenuhi kesedihan. Begitu melihat Yun Zhen masuk, barulah mereka tampak terkejut dan berseri, “Tuan Muda sudah pulang.”
Yun Zhen tak memedulikan mereka, langsung menuju kamar dalam. Dua pelayan utama berjaga di sisi ranjang, begitu melihatnya segera memberi hormat.
Di atas ranjang, berbaring seorang gadis muda, diselimuti rapat, hanya tampak wajahnya yang pucat dan tirus, rambut hitam legam terurai di atas bantal, semakin memperlihatkan tubuhnya yang tak berdaya.
Alis Yun Zhen mengerut dalam.
Hong Ge mendekat ke tepi ranjang, lalu membisikkan di telinga gadis itu, “Nona Besar, Tuan Muda sudah pulang, cepatlah buka mata dan lihat. Selama Tuan Muda ada, tak ada yang berani mengganggumu. Semua penderitaan dan kesedihanmu akan berakhir. Tuan Muda pasti akan membelamu!”
Bibir gadis itu benar-benar kehilangan warna darah, namun bulu matanya bergetar pelan, setetes air mata sebesar kacang menetes dari sudut matanya.
Air mata itu panas bagai bara, membakar mata Yun Zhen. Ia melangkah maju, lalu mengulurkan tangan, memegang bahu gadis itu dan langsung mengangkatnya dari ranjang.
Tubuh gadis itu terguncang di dalam genggamannya, seperti boneka kain tanpa berat. Meski matanya terbuka, sorot matanya kosong.
“Kakak, kau pulang ya…”
Karena lama tak makan, suaranya lemah bagai benang kusut, bibirnya sedikit terangkat, menunjukkan senyum memelas. Hong Ge yang melihat di samping, hampir saja menangis.
Otot rahang Yun Zhen menegang, urat-urat di tangannya menonjol, tiba-tiba telapak kanannya terangkat dan diayunkan di udara.
“Plak!”
Hong Ge dan dua pelayan lainnya terpaku ketakutan.
“Siapa yang membolehkanmu menyiksa dirimu sendiri seperti ini?! Percayalah, kalau kau mati, aku pasti tidak akan membiarkan laki-laki yang menyakitimu itu lolos! Aku akan mencincangnya sampai tak tersisa, agar tak pernah bisa reinkarnasi! Kalau kau ingin membuatnya mati lebih mengenaskan, silakan saja bunuh dirimu dengan kelaparan!” Yun Zhen berbicara dengan nada menggertak penuh kemarahan dan kepedihan.
Gadis yang digenggamnya tampak ketakutan oleh ancaman keras Yun Zhen, terdiam dengan mulut menganga. Karena pipinya yang cekung, kedua matanya tampak besar dan menakutkan.
Mata Yun Zhen penuh urat merah, wajahnya bahkan lebih suram dari adiknya sendiri.
Kedua kakak beradik itu saling menatap, tak ada yang berkata sepatah pun.
Hong Ge hanya berdiri di samping, tak berani bergerak, telapak tangannya pun mulai berkeringat.
Akhirnya, bulu mata Yun Lu bergetar, dua garis air mata mengalir di pipinya.
“Kakak…”
Suara itu lirih bagai burung kukuk menangis darah. Tangan Yun Zhen melonggar, tubuh Yun Lu pun langsung terjatuh ke pelukannya, seperti anak burung kembali ke sarang. Yun Zhen memeluknya erat, merasakan tubuh adiknya yang tinggal tulang dan kulit, seperti kantong kosong tak berisi. Di balik ketenangan dan ketegasan wajahnya, ia dilanda rasa ngeri yang mendalam.
Andai saja ia tak segera pulang, barangkali ia sudah benar-benar kehilangan adiknya.
**********
Li Anran hanya tinggal dua hari di rumah peristirahatan keluarga Yun. Tabib keluarga Yun terkenal pandai, obat yang diberikan sangat manjur, hanya dua hari ia sudah pulih meski masih sedikit lemas, namun sudah cukup kuat untuk bepergian.
Karena itu, ia memutuskan untuk berpamitan dengan pemilik rumah.
Setelah meminta pelayan keluarga Yun untuk menyampaikan maksudnya, Li Anran bersama Pei Shi dan Li Mo segera membereskan barang-barang mereka yang tak seberapa, lalu diantar pelayan menuju ruang tamu utama untuk berpamitan.
Di depan pintu ruang tamu, dua pelayan menunggu. Melihat mereka datang, keduanya tersenyum, “Di dalam ada Nona Besar kami, Silakan masuk, Nyonya Li.”
Li Anran mengangguk, menggandeng tangan Li Mo, lalu masuk bersama Pei Shi.
Di dalam ruangan, para pelayan berdiri mengelilingi seorang gadis muda tanpa riasan yang duduk di kursi utama. Wajahnya tetap cantik bagaikan dewi, meski tampak pucat dan tubuhnya terlalu kurus di balik pakaiannya.
Tak terlihat sosok Tuan Muda Yun Zhen yang biasanya berwajah dingin dan tajam, sehingga Li Anran sedikit lega.
“Hamba Li Anran, memberi hormat kepada Nona Besar.”
Ia bersama Li Mo membungkuk hormat, Pei Shi yang merupakan pelayan langsung berlutut.
Keluarga Yun adalah keluarga bangsawan kekaisaran dan rumah pejabat tinggi, sedangkan Li Anran dan rombongannya hanyalah rakyat biasa. Maka sikap hormat sebesar itu sepantasnya diterima oleh Nona Besar Yun Lu.
“Hong Ge, cepat bantu Nyonya Li berdiri!”
Hong Ge maju, namun Li Anran tentu saja tak menunggu untuk dibantu, ia segera bangkit sendiri.
“Terima kasih keluarga besar telah menyelamatkan kami bertiga di tengah bahaya, memberi tumpangan dan pengobatan. Kebaikan sebesar ini sungguh tak terlupakan. Kini kesehatan sudah pulih, kami tak berani merepotkan lagi, hari ini sengaja datang untuk berterima kasih dan berpamitan.”
Ekspresi Yun Lu agak muram, sudut mulutnya bergerak seolah hendak tersenyum, namun wajahnya pucat dan senyum itu pun tampak dipaksakan, “Nyonya Li, tak perlu berterima kasih. Ini hanya perkara sepele. Tapi kulihat Nyonya Li masih lemah, sebaiknya istirahat beberapa hari lagi, jangan terburu-buru pergi.”
Li Anran menjawab, “Terima kasih atas perhatian Nona Besar, namun sebentar lagi tahun baru, hamba tak ingin merepotkan lebih lama, jadi biarlah hari ini kami pamit.”
Yun Lu hendak membalas, namun tiba-tiba merasa sesak di tenggorokan, ia menutup mulut dengan sapu tangan dan mulai batuk.
Saat itu, seorang pelayan membawa nampan dengan sebuah mangkuk porselen kecil, lalu berkata pelan, “Nona, silakan makan sedikit.”
Yun Lu berusaha menghentikan batuknya, tak mau memandang mangkuk itu, malah memalingkan kepala, dan tiba-tiba matanya bertemu dengan bocah laki-laki kecil di samping Li Anran, Li Mo.
Selama Li Anran berbicara dengan Yun Lu, Li Mo berdiri tenang menggenggam tangan ibunya. Mata bulatnya yang bening bergerak lincah. Wajahnya yang memang tampan terlihat semakin segar setelah dua hari makan enak di rumah keluarga Yun, kulitnya cerah merona.
Saat Yun Lu menoleh ke arahnya, Li Mo langsung tersenyum manis.
Senyuman itu membuat Yun Lu tertegun. Wajah mungil Li Mo yang merah muda dan mata jernihnya seolah punya daya tarik aneh, membuat Yun Lu tak sanggup mengalihkan pandangan.
Semua orang di ruangan itu menyadari keanehan Yun Lu.
Li Mo yang merasa takut ditatap langsung seperti itu, segera mendekat pada Li Anran. Li Anran menunduk dan tersenyum padanya, Li Mo pun menengadah dan membalas senyumnya. Keakraban ibu dan anak itu terasa hangat seperti sinar matahari di musim dingin.
Li Mo berbisik pelan, “Ibu, ayo kita pulang?”
Li Anran menatapnya penuh kasih sayang, “Baik, sekarang juga kita pulang.” Ia lalu menoleh pada Yun Lu dan berkata, “Nona Yun, kami mohon pamit.”
Yun Lu tidak menjawab, hanya mengangguk tanpa sadar.
Hong Ge yang melihat itu, membungkuk dan berbisik di telinga Yun Lu, “Jika bayi di perut Nona lahir nanti, pasti akan secantik dan semanis anak keluarga Li.”
Mata Yun Lu perlahan menjadi hangat, ia menoleh pelan menatap Hong Ge.
Hong Ge kemudian mengambil mangkuk porselen dari tangan pelayan, “Nona, makanlah sedikit, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk bayi ini.”
Semua orang menatap Yun Lu penuh harap, menahan napas dalam ketegangan.