75. Kewibawaan Yao Shurong (Bagian Kedua)

Harum Lembut di Kamar Gadis Berlengan Merah Tao Su 2569kata 2026-02-07 23:55:55

Hari ini, Yao Shurong melakukan inspeksi ke berbagai toko rempah milik keluarga Cheng.

Sudah hampir tiga bulan ia menjadi nyonya utama di keluarga Cheng. Dalam waktu singkat itu, seluruh pengelolaan rumah besar keluarga Cheng telah ia genggam sepenuhnya. Orang-orang kepercayaan Li Anran yang dulu diandalkan, kini semua telah ia singkirkan, dan posisi-posisi penting diisi oleh orang-orang pilihannya sendiri. Berbeda dengan gaya kepemimpinan Li Anran yang lembut dan penuh toleransi, cara Yao Shurong memerintah penuh ketegasan dan kekerasan. Setiap pembangkangan selalu ia balas dengan hukuman berat. Banyak pelayan dan pembantu di keluarga Cheng yang sudah pernah menerima teguran dan makiannya. Suasana rumah besar keluarga Cheng kini, sudah jauh dari damai dan tenteram seperti saat Li Anran masih berkuasa.

Setelah berhasil mengambil alih kendali rumah utama, Yao Shurong pun menaruh perhatian pada usaha-usaha milik keluarga Cheng.

Ia adalah perempuan yang sangat ambisius. Cheng Yanbo hanya tahu bermalas-malasan dan menikmati hidup. Begitu banyak usaha keluarga Cheng, tentu harus ada yang mengelola. Jika dulu Li Anran yang mengurusnya, kini ia menggantikan posisi Li Anran, maka sudah sewajarnya pula ia mengambil alih seluruh kekuasaan yang pernah dimiliki Li Anran.

Dalam satu pagi, ia telah memeriksa tiga toko rempah. Meski para manajer tua itu masih menyimpan sedikit kesombongan sebagai senior, namun di hadapan nyonya utama yang baru, mereka tak punya pilihan selain menunduk dan patuh.

"Nyonya, bisnis toko rempah ini sungguh menguntungkan. Kita hanya mengambil sepuluh persen keuntungan dari masing-masing toko, namun uang yang terkumpul sudah sebanyak ini," kata Chunying sambil memegang sebuah kotak kayu cendana berukir indah, berisi sepuluh persen keuntungan dari ketiga toko rempah selama bulan pertama dan kedua tahun ini. Melihat tumpukan surat hutang itu, mata Chunying memancarkan kilauan penuh nafsu.

Yao Shurong sambil memperhatikan kuku yang baru saja ia olesi cat berwarna ungu kemerahan, menjawab santai, "Masih banyak yang harus dikerjakan. Tanpa uang, mana mungkin semua bisa berjalan. Hanya saja, aku belum bisa menyingkirkan si kakek bendahara itu, jadi harus repot-repot seperti ini."

Yang ia maksudkan adalah Cheng Ying, bendahara keluarga Cheng. Meski statusnya hanya pelayan, ia sudah mengurus keuangan sejak masih di bawah kendali nyonya besar keluarga Cheng. Ia setia pada keluarga Cheng selama puluhan tahun, bahkan Cheng Yanbo pun tumbuh besar di bawah pengawasannya. Posisi Cheng Ying di keluarga Cheng hampir setara dengan kepala keluarga itu sendiri. Cheng Yanbo sangat menghormati dan mempercayainya.

Meski Yao Shurong sudah menempatkan orang-orangnya di mana-mana, hanya Cheng Ying yang belum bisa ia kuasai sepenuhnya. Cheng Ying memegang semua pembukuan dan kunci gudang. Setiap pengeluaran keluarga Cheng harus mendapat persetujuannya.

Tanpa uang, ia tak bisa berdiri tegak. Yao Shurong jelas tak tahan harus selalu merendahkan diri setiap kali butuh uang kepada pelayan tua itu.

Berbagai cara sudah ia coba: ancaman, bujukan, bahkan menjelek-jelekan Cheng Ying di depan Cheng Yanbo. Namun sayang, kedudukan Cheng Ying di keluarga Cheng sangat kokoh dan ia pun sangat berhati-hati. Tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan. Untuk sementara, Yao Shurong belum bisa berbuat apa-apa.

Sejak menjadi nyonya utama keluarga Cheng, Yao Shurong menempati kediaman utama yang dulunya milik Li Anran. Namun ia menolak menggunakan barang-barang lama milik Li Anran, dan meminta kepada Cheng Yanbo agar seluruh kediaman utama direnovasi total, dengan semua perabotan diganti baru.

Cheng Yanbo yang masih mabuk asmara setelah pernikahan, menuruti semua permintaannya. Namun Cheng Ying menolak mengeluarkan uang, dengan alasan semua perabotan di kediaman utama masih dalam kondisi sangat baik, walau sudah dipakai beberapa tahun oleh Li Anran, sama sekali tidak rusak sedikit pun, tak kalah dengan barang baru, jadi tak perlulah menghambur-hamburkan uang untuk ganti baru.

Yao Shurong sampai gemas dibuatnya. Berkali-kali ia mencoba mempengaruhi Cheng Yanbo, namun suaminya itu terlalu hormat dan segan pada Cheng Ying, sehingga hanya tahu membujuk istrinya tanpa benar-benar membantu.

Karena itulah, Yao Shurong mulai melirik keuntungan dari toko-toko rempah. Menurutnya, semua itu milik keluarga Cheng, dan ia sebagai nyonya utama berhak mengambil uang dari usaha keluarga.

Tiga toko rempah yang telah ia datangi tadi, meski sempat berusaha menolak, akhirnya semua tunduk juga di bawah ancaman dan bujukan Yao Shurong.

“Nyonya, selanjutnya adalah Toko Rempah Long Sheng Xiang. Manajer toko ini, Liang Dingbang, diangkat sejak masa nyonya besar dulu. Ia paling dihormati di antara semua manajer toko keluarga Cheng, sepertinya akan sulit dihadapi,” ujar Chunying setelah selesai menghitung uang dan menyimpan kotak itu.

Yao Shurong hanya melambaikan tangan, “Tak perlu takut. Dia cuma seorang tua renta, hanya pelayan keluarga Cheng juga. Masak aku, nyonya utama, tak bisa mengendalikan seorang pelayan tua!”

Watak majikannya yang angkuh menular pada Chunying. Ia pun terbiasa kasar dan sama sekali tak merasa ada yang salah dengan ucapan itu.

Saat kereta kuda melintasi Jalan Liuli, Yao Shurong iseng mengangkat tirai jendela untuk melihat pemandangan luar, dan mendapati sebuah toko di ujung timur sedang tertutup rapat dengan kain biru.

“Waktu lewat sini tempo hari, bukankah toko itu sedang dijual? Kenapa sekarang jadi seperti sedang direnovasi?”

Chunying juga melongok keluar, “Seingat saya memang begitu, mungkin sudah laku dan pemilik baru sedang bersiap buka kembali.”

Yao Shurong hanya bertanya sekilas, tak terlalu peduli. Setelah menoleh ke sana kemari dan tak menemukan sesuatu yang menarik, ia pun menurunkan tirai lagi.

Kereta menelusuri jalan dan gang. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah toko dengan papan nama bertuliskan “Toko Rempah Long Sheng Xiang”.

Seorang pelayan toko yang mengenali kereta kuda nyonya utama, segera menyambut dengan penuh hormat.

Yao Shurong turun dari kereta dengan bertumpu pada tangan Chunying, lalu melangkah masuk dengan penuh keangkuhan.

Di dalam toko, beberapa pelanggan tengah menawar harga rempah dengan para pelayan. Yao Shurong berdiri sejenak, namun tak seorang pun datang menyambutnya. Wajahnya pun langsung berubah masam.

Chunying menyahut, “Di mana manajer Liang? Kenapa tidak keluar menyambut nyonya? Apa tidak ada yang memberi tahu ia bahwa nyonya datang?”

Pelayan itu tersenyum kaku, “Sudah saya laporkan. Hanya saja, tadi ada pelanggan besar yang datang. Manajer sedang melayani di belakang dan belum bisa keluar.”

Baru saja ia bicara, pelayan lain mengangkat tirai dari ruang belakang dan memberi salam pada Yao Shurong, “Manajer sedang membicarakan urusan besar dengan pelanggan, tidak bisa meninggalkan tempat. Mohon maaf, tidak bisa keluar menyambut nyonya.”

Wajah Yao Shurong seketika mengeras, menghembuskan napas dingin.

Chunying segera meninggikan suara, “Manajer Liang benar-benar sombong! Urusan apa yang lebih penting dari nyonya? Apa dia tidak menghormati nyonya utama!”

Pelayan itu makin gugup, tak berani berkata apa-apa.

Namun Yao Shurong mendadak melunak, tersenyum samar, “Chunying, jangan ribut. Ini toko, bukan rumah, harus tahu adat dan tata krama, jangan sampai jadi bahan tertawaan orang.”

Sekilas ia menegur Chunying, namun jelas kata “adat dan tata krama” itu ditujukan pada manajer Liang Dingbang. Pelayan itu pun paham maksudnya, meski hanya bisa terus tersenyum kaku.

“Kalau manajer Liang sedang sibuk, tidak perlu menyambut pun tidak apa-apa,” ujar Yao Shurong santai, sambil menunjuk ke arah pelayan itu dengan ujung kukunya, “Kau saja yang antar, aku ingin bicara dengan manajer Liang.”

“E... ini...” Pelayan itu tampak ragu.

Yao Shurong menatap tajam, “Apa aku, nyonya utama, bahkan tidak bisa memerintah seorang pelayan sepertimu?”

“Bukan, bukan begitu,” jawab pelayan itu. Ia tahu Yao Shurong bukan orang yang mudah memaafkan, terpaksa ia pun membawa mereka masuk ke ruang belakang toko.

Sekitar setengah jam kemudian, Yao Shurong keluar dari belakang dengan senyum kemenangan di wajahnya. Chunying mengikutinya dari belakang, memeluk sebuah kotak kayu berlapis pernis, dengan raut wajah puas.

Seorang manajer tua berambut abu-abu mengikuti mereka hingga keluar toko, menatap kereta yang ditumpangi Yao Shurong hingga menghilang di kejauhan.

Barulah Liang Dingbang, manajer tua itu, menampakkan perubahan di matanya yang dalam.

“Waktu nyonya muda masih di sini, semuanya tak begini...” Ia menghela napas panjang.

Yang dimaksud nyonya muda tentu saja Li Anran.

Di masa Li Anran, tak pernah ada keuntungan toko yang diambil untuk kepentingan pribadi. Kini Yao Shurong berkuasa, banyak aturan lama pun telah dilanggar.

Sebagai pedagang senior, Liang Dingbang merasakan ada bahaya yang mengintai dari semua kejadian ini.