Bab 68: Siapakah Pembunuh Misterius Itu
Keesokan paginya, ketika Mu Chen terbangun, suara kerusuhan di jalanan jauh berkurang. Ia memasang telinga, tetapi lama menunggu pun tak terdengar lagi teriakan anak-anak dan tangisan perempuan seperti kemarin. Ia tersenyum lega. Tampaknya Xiang Yu benar-benar mendengar nasihatnya dan mengurungkan niat untuk membantai seluruh kota.
Tubuhnya yang sudah terbiasa bergerak itu merasa tidak nyaman jika hanya berbaring di atas ranjang. Andai saja di samping tempat tidurnya kini ada komputer untuk bermain game, semuanya pasti lebih menyenangkan. Sayangnya, ia kini berada di akhir masa Dinasti Qin, lebih dari dua ribu tahun silam, di mana komputer masih di luar batas imajinasi manusia.
Di zaman ini, hiburan manusia sangat terbatas. Mu Chen ingin membaca buku, tapi ia pun belum banyak mengenal huruf-huruf kecil pada naskah kuno. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah berbaring menatap langit-langit, menggubah cerita dalam benaknya sendiri untuk menghibur diri.
Sepanjang hari, Xiang Yu tidak menjenguknya, begitu pula Liu Bang. Barulah malam hari, Ling Er datang, sama seperti hari sebelumnya, membawa sup ginseng yang dimasak sendiri oleh Liu Ru untuknya.
“Ling Er, apakah kau menyimpan dendam padaku?” Mu Chen meminum sesendok sup ginseng, sambil tersenyum pada Ling Er yang sedang menyendokkan sup dari mangkuk untuk disuapkan kepadanya.
“Kenapa Tuan bertanya begitu? Kenapa aku harus mendendam padamu?” Ling Er menatap Mu Chen dengan bingung. Ia benar-benar tak mengerti alasan untuk marah atau mendendam.
“Dulu aku pernah meminta Nona Liu meminjamkanmu padaku. Seandainya ia setuju, mungkin kita berdua sudah lebih dulu masuk kota. Saat aku bertarung dengan pasukan Qin, aku pasti terluka, sehingga tak bisa segera menjemputmu. Itu akan sangat berbahaya bagimu. Hampir saja aku mencelakakanmu. Bukankah itu membuatmu dendam padaku?” Mu Chen tersenyum pahit. Ia bersyukur waktu itu Liu Ru tidak mengabulkan permintaannya. Ia memang terlalu meremehkan pasukan Qin.
“Tapi Nona Liu tidak mengizinkan, bukan?” Ling Er tersenyum manis pada Mu Chen. “Tuan tidak perlu terus memikirkannya. Aku sama sekali tidak menyimpan dendam padamu. Oh ya, Nona Liu juga berpesan agar Tuan hati-hati pada Tian Meng belakangan ini. Ia sepertinya selalu mengutus orang untuk mengawasi Tuan.”
“Hmm?” Mu Chen mengerutkan kening. Ia sungguh tak menyangka Tian Meng sudah menyadari keberadaannya. Memang, kali ini Mu Chen lengah. Ia lupa bahwa saat perjalanan, ia menunggang kuda di antara barisan tentara tanpa mengenakan zirah, membuatnya sangat mencolok. Ditambah lagi, ia menjadi pusat perhatian saat membantu pasukan Chu menembus gerbang Chengyang, hingga kini namanya dikenal oleh seluruh pasukan Chu.
“Ling Er, bagaimana Nona Liu tahu Tian Meng mengutus orang untuk mengawasiku?” tanya Mu Chen lagi, masih ragu. “Tak aneh jika ia tahu tentangku, karena aku memang terlalu menonjol. Tapi mengapa ia sampai teledor, hingga orang yang dikirim untuk mengawasiku bisa diketahui oleh Nona Liu?”
Ling Er menunduk, terdiam cukup lama. Akhirnya ia menggeleng dan berkata pelan, “Aku tidak tahu. Setiap kali Nona Liu mendapat kabar dari luar, ia langsung memberitahuku, dan aku tidak pernah menanyakan sumber beritanya. Tuan hanya perlu tahu, Tian Meng mungkin punya niat tersembunyi padamu, jadi berhati-hatilah ke mana pun Tuan pergi.”
“Oh ya, Tuan, apakah Tuan dan Tian Meng sudah saling mengenal sejak lama? Kenapa saat aku bilang ia punya niat jahat padamu, Tuan sama sekali tidak terkejut?” Sesudah menjawab pertanyaan Mu Chen, Ling Er balik bertanya dengan penuh perhatian.
Mu Chen bersandar di atas kasur yang sudah diatur oleh para pelayannya, lalu tersenyum tipis pada Ling Er. “Ling Er begitu cerdas, masa tidak bisa menebak? Tian Meng sedang mendekati Nona Liu, namun Nona Liu malah bersikap dingin padanya, sementara ia justru lebih dekat denganku, bahkan menyuruhmu mengantarkan sup ginseng khusus untukku. Setiap pria pasti akan merasa cemburu, bukan?”
“Oh!” Ling Er mengangguk seolah baru mengerti, lalu kembali menyendokkan sup ke mulut Mu Chen tanpa berkata apa-apa lagi.
Malam itu, Mu Chen berbaring semalaman tanpa bisa tidur. Ia sangat kesal, karena kini dirinya telah diketahui Tian Meng. Itu berarti, setelah cederanya sembuh pun, apakah ia bisa menangkap Tian Meng dengan lancar masihlah tanda tanya. Bahkan, sebelum sembuh, ia tidak tahu apakah Tian Meng akan bertindak lebih dulu terhadapnya.
Ia berbohong pada Ling Er, tidak menceritakan permusuhan antara dirinya dan Tian Meng. Jika rahasia itu sampai ke telinga Liu Bang, sudah pasti Liu Bang akan memperketat perlindungan terhadap Tian Meng.
Tian Meng yang tidak langsung melapor pada Liu Bang setelah mengetahui dirinya, hanya membuktikan betapa bodohnya dia. Tapi kebodohan Tian Meng tidak berarti Mu Chen juga bodoh. Keduanya memang punya tujuan berbeda, tapi sama-sama menyimpan rahasia yang tidak mereka ungkapkan.
Mu Chen terus berpikir, jika ia adalah Tian Meng, lalu tahu dirinya terluka parah, apa yang akan ia lakukan? Akhirnya ia sadar, jika ia menjadi Tian Meng, ia pasti akan segera bertindak saat lawan sedang lemah, menghabisinya selagi ada kesempatan.
Setelah menyadari hal itu, kekhawatiran Mu Chen hanya tinggal satu: ia tidak tahu kapan Tian Meng akan bergerak. Dalam kondisi seperti sekarang, bahkan jika Tian Meng hanya mengirim tiga atau empat anak kecil, mereka pun bisa menghabisinya. Ia hanya berharap Tian Meng menunggu sampai ia bisa turun dari ranjang, barulah menghadapi dirinya.
Tiga hari terlewati dengan tenang. Pada hari ketiga, Xiang Yu menjenguknya, meski tidak berlama-lama. Ia hanya mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan sebuah kereta kuda untuk Mu Chen. Besok pagi, saat pasukan mulai bergerak ke barat, Mu Chen harus berbaring di kereta itu dan ikut bersama barisan Xiang Yu.
Xiang Yu sangat sibuk, sibuk membereskan sisa-sisa kekacauan di Chengyang. Selama tiga hari, ia dan Liu Bang membantai seluruh penduduk Chengyang. Dalam dua hari pembantaian itu, kecuali sekali bertemu Liu Bang di kamar Mu Chen, setelahnya Liu Bang tak pernah lagi bisa ditemui.
Setiap kali ia mengutus orang mencari Liu Bang untuk membicarakan urusan penanganan pasca-pembantaian, jawabannya selalu sama: Liu Bang sedang di luar, mengawasi pasukan agar tidak terjadi kerusuhan, atau mencegah perkelahian antar prajurit sendiri.
Semua alasan itu terdengar sangat masuk akal, dan memang itulah hal-hal yang paling dikhawatirkan Xiang Yu. Karena itulah ia tidak mempermasalahkan hilangnya Liu Bang dari sisinya. Ia memang tidak punya alasan untuk menyalahkan Liu Bang.
Karena Liu Bang selalu tidak ada, Xiang Yu merasa kurang tenang meninggalkan Mu Chen yang sedang luka di sisi Liu Bang. Meski secara status Mu Chen adalah bawahan Liu Bang, ia juga merupakan saudara angkat Xiang Yu. Maka, sebelum pasukan berangkat keesokan harinya, Xiang Yu meluangkan waktu untuk menjenguk dan menyiapkan kereta khusus bagi Mu Chen.
Ketika Mu Chen berbaring di kereta, dan kereta itu berguncang di jalan-jalan kecil kota, ia mencium bau amis yang sangat menyengat, bau darah yang kental dan menusuk hidung. Saat ia mengangkat tirai pintu kereta dan mengintip ke luar, pemandangan yang tersaji membuatnya terpaku.
Ternyata Xiang Yu tidak mendengarkan nasihatnya. Di seantero kota, terlihat noda-noda darah yang sudah mengering dan mulai menghitam, tumpukan mayat berjejer di pinggir jalan. Untungnya cuaca tidak panas, kalau tidak, mayat-mayat itu pasti sudah mengeluarkan bau busuk yang tak tertahankan.
Di sudut-sudut yang tak terlalu mencolok, juga terdapat tumpukan mayat wanita tanpa sehelai benang pun. Mu Chen tidak bisa melihat jelas wajah-wajah mereka, namun ia bisa menebak, sebelum mati mereka pasti telah mengalami penghinaan yang luar biasa.
Tiba-tiba ia merasakan nyeri yang amat sangat di dadanya, seolah tertusuk sebilah pedang.
Perlahan ia menurunkan tirai pintu, lalu berbaring diam di atas kasur kereta. Dua aliran air mata menetes di sudut matanya.
Mu Chen menangis. Sejak melintasi waktu ke zaman ini, ini adalah kali kedua ia menangis. Kali pertama, saat Qin Niang dan Li Niu dibunuh. Ia masih ingat betul, saat memeluk jasad mereka, amarah dan dendam membara di hatinya, tak bisa dibendung.
Ia membenci pembantaian, membenci pembunuhan biadab terhadap rakyat tak bersenjata, membenci jeritan putus asa yang terdengar sebelum mereka dibunuh, membenci segala bentuk kesewenang-wenangan yang menindas kaum lemah!
Namun kini, di hadapannya terbentang jajaran mayat rakyat tak bersalah yang tak terhitung jumlahnya. Mungkin di antara mereka ada segelintir penjahat, tetapi kebanyakan adalah rakyat biasa yang hanya ingin hidup tenang bersama keluarga.
Mereka tidak pantas mati. Setidaknya menurut Mu Chen, mereka tidak seharusnya mati. Ia tidak mengerti mengapa Xiang Yu harus membantai seluruh kota, juga tidak paham mengapa Liu Bang yang selama ini dikenal sebagai orang bijak tidak mencoba menghentikan Xiang Yu. Tragedi itu terjadi di depan matanya, tanpa ia mampu berbuat apa-apa.
Kebanggaan yang ia rasakan saat berhasil menerobos gerbang kota, kekaguman para prajurit Chu yang menganggapnya pahlawan, semua itu runtuh menjadi serpihan ketika ia melihat lautan mayat di seluruh kota.
Kereta bergerak perlahan di tengah barisan pasukan, meninggalkan di belakangnya sebuah kota mati tanpa kehidupan. Chengyang, yang dulu merupakan kabupaten yang makmur, kini dalam waktu tiga hari saja berubah menjadi kota tanpa satu pun yang hidup. Tak ada suara selain derak kayu rumah yang terbakar.
Dalam penyerbuan Chengyang, pasukan Chu pun kehilangan ratusan orang dan ribuan lainnya terluka.
Xiang Yu tetap menunggang kuda di barisan paling depan, di sampingnya Liu Bang yang diam tanpa sepatah kata pun.
Kereta Mu Chen berada pada urutan keempat di barisan pasukan Xiang Yu. Ia sama sekali tidak tahu siapa yang duduk di tiga kereta di depannya, dan saat ini ia pun tidak berminat mencari tahu. Pikirannya masih tertahan di Chengyang, pada kota yang kini menjadi lautan arwah karena ia berhasil menembus gerbang kota itu.
Di belakang kiri keretanya, seorang pemuda mengenakan zirah pasukan Chu menatap kereta hitam tempat Mu Chen berbaring dengan tatapan penuh kebencian. Pemuda itu bukan orang lain, melainkan Tian Meng, sosok yang selalu dicari Mu Chen untuk dibawa kembali ke Gunung Shuanglong.
Sejak mengetahui Mu Chen bergabung dengan Liu Bang, Tian Meng tidak lagi berani mengenakan jubah merah yang menjadi ciri khasnya. Ia mengenakan zirah pasukan Chu, berbaur di antara para prajurit.
Awalnya, orang-orang yang ia kirim untuk memata-matai Mu Chen masih bisa kembali dan melapor. Namun setelah Mu Chen terluka, tak satu pun dari mereka kembali. Ketika ia masih bingung, semalam seseorang melemparkan sebuah kotak ke dalam kamarnya lewat jendela.
Yang membuat Tian Meng begitu ketakutan adalah, ketika ia membuka kotak itu, di dalamnya terdapat tiga telinga manusia, semuanya telinga kiri.