Bab 69: Membawa Pulang Seorang Istri untuk Disayang Sepenuh Hati
Selama tiga hari itu, memang benar ia telah mengirim tiga orang untuk menyelidiki keadaan Mu Chen, bahkan sempat terpikir olehnya untuk memanfaatkan saat Mu Chen tak berdaya dan membunuhnya lebih dulu. Penampilan Mu Chen saat menerobos gerbang utama Chengyang sudah membuat Tian Meng gentar sampai ke tulang. Ia tahu, jika menunggu Mu Chen pulih, dengan kekuatannya saat ini, mustahil ia bisa bergerak lagi.
Awalnya, Tian Meng berniat memastikan kekuatan dua orang yang bersama Mu Chen. Jika mereka hanya pengikut biasa, ia akan mengutus pembunuh untuk menyingkirkan Mu Chen saat kondisinya masih lemah. Namun, Tian Meng tak menyangka, Mu Chen ternyata telah memasang jebakan secara diam-diam. Tiga orang yang dikirimnya malah tewas secara misterius, dan telinga mereka bahkan dikirim kembali kepadanya.
Sebenarnya, Tian Meng pun tidak tahu, Mu Chen juga tidak tahu siapa yang membunuh orang-orang yang dikirim untuk memata-matinya. Ia bahkan sama sekali tidak sadar Tian Meng telah mengutus orang mengawasinya diam-diam.
Menjelang malam, Mu Chen yang tak bisa berjalan sendiri, diangkat oleh sekelompok prajurit Chu menuju tenda yang telah disiapkan untuknya. Dua pengikutnya semula ingin mengangkat Mu Chen sendiri, tapi begitu pintu kereta terbuka, beberapa prajurit Chu langsung mengerubung, berebut ingin membantu mengangkatnya masuk ke tenda.
Akhirnya, Mu Chen justru dikelilingi banyak prajurit Chu, sementara dua pengikutnya terdorong ke barisan luar. Meski khawatir dengan keselamatan Mu Chen dan ingin mendekat, mereka sama sekali tak berdaya didesak para prajurit Chu. Mereka hanya bisa melompat-lompat di pinggiran, menengok Mu Chen yang diangkat ramai-ramai, sambil berteriak, "Pelan-pelan! Hati-hati! Jangan sampai pemimpin kami cedera lagi!"
Tapi siapa yang mau mendengarkan mereka? Para prajurit yang kebagian mengangkat Mu Chen jelas merasa bangga, sementara yang tidak kebagian malah melompat-lompat, berusaha menyentuh Mu Chen, seolah menjadi kehormatan tersendiri. Dalam waktu singkat, tubuh Mu Chen sudah disentuh lebih dari dua ratus tangan.
Yang paling menderita tentu saja Mu Chen sendiri. Luka-lukanya belum sembuh, semakin sakit ketika ia diangkat begitu. Ia ingin memprotes, tapi tak kuasa berteriak. Ia hanya bisa pasrah seperti sebatang kayu lapuk, diusung menuju tenda.
Yang lebih menyebalkan lagi, prajurit-prajurit yang tak bisa mengangkatnya malah sibuk meraba-raba tubuhnya. Begitu tangan-tangan kasar itu menyentuhnya, Mu Chen benar-benar ingin memaki mereka habis-habisan, menyebut mereka macam-macam!
"Tingkah kalian ini, seperti monyet saja, sedang apa kalian sebenarnya?" Saat Mu Chen putus asa menutup mata, pasrah menerima 'siksaan' itu, tiba-tiba suara berat menghidupkan lagi harapannya.
Xiang Yu, dengan tangan memegang gagang pedang dan senyum mengembang, memimpin belasan prajurit muda dari Jiangdong mendekat. Dari jauh ia sudah melihat kerumunan prajurit Chu yang ribut, bahkan para perwira pun ikut bergabung.
Beberapa hari terakhir, Xiang Yu lelah oleh urusan Chengyang dan ingin sedikit bersantai. Melihat anak buahnya begitu gembira, ia pun ingin ikut bersenang-senang. Namun, begitu mendekat, matanya langsung menangkap pandangan memelas Mu Chen yang seperti minta tolong. Seketika hatinya tercekat. Ia segera membelah kerumunan, merebut Mu Chen dari tangan para prajurit Chu dan menggendongnya sendiri.
"Kalian ini, apa-apaan! Tak tahu kalau saudara saya sedang terluka parah? Masih saja berbuat seperti ini, kalian semua mau kena cambuk?" Xiang Yu membentak sambil melotot ke sekeliling, "Cepat bubar! Kalau ada yang masih berani mengganggu saudara saya, siap-siap saja dipukuli!"
Seketika para prajurit Chu langsung ciut, sunyi senyap. Sebagian yang penakut sudah lari menjauh, berjinjit menengok ke arah tenda, khawatir Xiang Yu benar-benar akan menghajar mereka.
"Kami hanya sangat mengagumi Pahlawan Mu, sama sekali tidak bermaksud buruk." Seorang perwira menunduk dan bergumam pelan, mengira Xiang Yu tak akan mendengar. Ternyata Xiang Yu bukan hanya mendengar, tapi juga tahu persis siapa yang bicara.
Seketika, jejak kaki ukuran empat puluh delapan mendarat telak di pantat perwira itu, membuatnya terkapar sambil meringis, baru bisa bangkit setelah lama. Ia pun berjalan pincang dan bersembunyi di antara para prajurit Chu lainnya.
"Berani-beraninya membantah!" Xiang Yu kembali melirik para prajurit Chu di sekelilingnya. "Beginikah caranya mengagumi seseorang? Mengangkat orang yang terluka parah seperti menggotong kayu, tak takut lukanya makin parah? Kalian yang di luar, tak dapat giliran malah lompat-lompat memegang, kalian kira ini apa? Mau pegang-pegang, tunggu habis perang saja, nikahi istri di rumah, baru boleh pegang sesukanya!"
Sambil bicara, Xiang Yu pura-pura menyerbu ke arah kerumunan. Seketika para prajurit Chu itu kocar-kacir. Namun, ketika Xiang Yu membawa Mu Chen masuk tenda, sebagian yang pemberani tetap diam-diam mengintip ke dalam tenda seperti pencuri.
"Minggir, minggir!" Setelah Xiang Yu membuat para prajurit Chu bubar, dua pengikut Mu Chen yang sejak tadi tak bisa mendekat, kini merasa lebih percaya diri dan mendorong para prajurit Chu di depan mereka.
Salah satu pengikut bahkan mencibir, dengan nada menyombongkan diri berkata pada para prajurit Chu, "Sudahlah, jangan ganggu! Pemimpin kami memang hanya kami berdua yang boleh mengurus. Kalian tak perlu ikut campur, ingat itu baik-baik!"
Ucapan itu justru membuat para prajurit Chu yang sedang kesal tambah naik darah. Banyak yang mengacungkan tinju ke arah kedua pengikut itu, entah siapa yang tiba-tiba berteriak, "Hajar saja mereka! Biar tahu rasa nanti!"
Ucapan itu seperti batu besar dilempar ke permukaan danau yang tenang. Segera saja para prajurit Chu yang penuh amarah melompat menerjang kedua pengikut Mu Chen.
Belasan prajurit muda Jiangdong yang bersama Xiang Yu buru-buru berdiri melindungi tenda Mu Chen, menjaga agar tenda tidak turut menjadi sasaran.
Kedua pengikut Mu Chen yang melihat ratusan prajurit Chu mengacungkan tinju ke arah mereka langsung menjerit ketakutan, berniat lari tapi sudah terkepung rapat.
"Pahlawan! Pahlawan! Wahai para pahlawan!" Salah satu pengikut melihat para prajurit Chu di sekelilingnya sudah siap melahap mereka, lututnya langsung lemas. Ia buru-buru membungkuk dan berkata, "Maaf, dia memang suka bicara sembarangan. Kalau kalian marah, pukul saja dia, aku tak bersalah! Aku tak bilang apa-apa, jangan pukul aku!"
"Abaikan saja, pukul!" Entah siapa yang meneriakkan itu, dalam sekejap lebih dari seratus prajurit Chu mengayunkan pukulan ke arah kedua pengikut itu.
"Kamu memukulku!" Tak lama, terdengar suara teriakan dari dalam kerumunan, lalu disusul teriakan lain.
"Aduh! Kenapa kamu menendang ke situ?"
"Berani-beraninya menamparku!"
"Sial! Hidungku sampai berdarah!"
...
Akhirnya, tak ada lagi teriakan, semua sudah berubah menjadi perkelahian massal. Bukan lagi memukuli dua pengikut Mu Chen, tapi sudah saling hajar satu sama lain, sembari memaki dan mengumpat.
"Apa yang kalian ributkan di luar sana?" Xiang Yu yang baru saja meletakkan Mu Chen di ranjang di dalam tenda dan hendak berbincang, kembali mendengar keributan di luar.
Sudah benar-benar kesal, Xiang Yu membuka tirai tenda dan melangkah keluar. Yang dilihatnya adalah ratusan orang saling baku hantam. Ia membentak keras, membuat semua prajurit Chu tertegun, berdiri kaku dan gemetar ketakutan.
Xiang Yu memang garang di medan perang, tanpa ampun pada musuh, tapi ia sangat menyayangi prajuritnya sendiri dan tak suka melihat mereka bertengkar. Kalau kabar ratusan prajurit saling baku hantam ini sampai tersebar, ia pasti jadi bahan tertawaan. Ia pun naik pitam dan membentak, "Pengawal! Tangkap semua yang ikut berkelahi, masing-masing dihukum sepuluh kali cambuk militer! Lihat saja masih berani bertengkar lagi atau tidak!"
Belasan prajurit muda Jiangdong yang bersama Xiang Yu langsung maju, menendang lutut prajurit-prajurit Chu yang baru saja bertengkar, membuat mereka semua tersungkur.
Para prajurit yang baru saja saling menghajar kini patuh menelungkup di tanah, wajah-wajah mereka seperti baru kehilangan ibu, pantat mereka sengaja diangkat tinggi, bersiap menerima cambukan.
Kedua pengikut Mu Chen yang dikeroyok tadi mukanya sudah bengkak seperti kepala babi. Ketika para prajurit Chu akhirnya mundur, mereka pun serempak menghela napas lega dan terduduk lemas.
Seorang prajurit muda Jiangdong mendekati mereka, melihat mereka masih duduk di tanah, lalu menginjak pundak salah satunya hingga ia terjerembab. Saat ia hendak melakukan hal yang sama pada satunya lagi, pengikut yang sudah terjatuh lebih dulu buru-buru bangkit.
Prajurit muda Jiangdong itu menginjak punggung pengikut yang masih di tanah, lalu menunjuk yang berdiri, "Tiarap! Tunggu giliran cambuk!"
Pengikut yang berdiri menegakkan kepala, merasa tak terima, "Kami bukan prajurit Chu, kenapa harus menerima hukuman kalian?"
Belum sempat prajurit muda itu menjawab, dari luar tenda terdengar suara Xiang Yu, "Kalau kalian bukan prajurit Chu, tidak perlu dihukum cambuk militer."
Kedua pengikut Mu Chen mendengar itu langsung sumringah, berlutut dan menghaturkan syukur pada Xiang Yu, "Jenderal Xiang luar biasa! Jenderal Xiang bijaksana! Panjang umur untuk Jenderal Xiang! Semoga kebaikan Jenderal Xiang dibalas kebaikan! Jenderal Xiang tampan dan menawan! Jenderal Xiang..."
Baru saja mereka mulai memuji, Xiang Yu sudah kehilangan kesabaran, "Kalau bukan prajurit Chu, berarti kalian mata-mata Qin! Tahan dan penggal saja!"