Bab Sembilan: Pembunuhan Pertama yang Sebenarnya
Ketiga orang di dalam rumah itu menangis tersedu-sedu, sementara di luar, sekelompok besar wanita desa justru tampak bersemangat seperti baru saja mendapatkan suntikan semangat, wajah mereka memerah dan tak lagi lesu seperti biasanya.
Mu Chen merangkul Qin Niang dan Li Niu menuju jendela. Ketiganya menatap ke luar. Hujan deras masih mengguyur, butiran hujan sebesar kacang dipadu suara angin menghantam tanah, atap rumah, dan pucuk-pucuk pohon dengan keras.
Hari-hari berikutnya, pasukan Qin yang kalah perang terus-menerus melintasi desa itu. Setiap kali ada pasukan lewat, para wanita desa akan dengan penuh gairah berlari keluar untuk menyambut mereka.
Mu Chen tidak mengerti dengan tingkah para wanita itu. Dulu ia selalu mengira wanita di zaman kuno adalah gadis-gadis penurut yang tak pernah keluar rumah, namun tak pernah terpikir olehnya kalau wanita di masa Qin ternyata lebih terbuka dan berani daripada wanita di dunia modern tempat ia berasal.
Setiap malam ketika pasukan Qin datang, dari banyak rumah tanah di desa itu selalu terdengar suara-suara aneh. Esok paginya, dari rumah-rumah itu akan keluar prajurit Qin dengan baju besi mengilap dan wajah penuh kebanggaan, serta gadis desa yang tersenyum manis, tampak lembut dan mempesona.
Prajurit Qin yang sebelumnya datang dalam kondisi compang-camping dan loyo seperti anjing kehilangan tuan, keesokan harinya akan tampak tegap dan percaya diri, seperti jenderal yang baru saja memenangkan pertempuran.
Akhirnya hujan deras itu benar-benar berhenti, persediaan ikan hasil tangkapan para gadis desa pun habis. Karena belum menguasai cara berburu lain, setelah hujan reda, gadis-gadis desa itu jadi kebingungan, genangan air yang mengering tak lagi menyediakan cukup ikan untuk menjamu pasukan Qin yang terus berdatangan.
Akhirnya, kebutuhan bertahan hidup mengalahkan hasrat jasmani. Para wanita desa, yang tak lagi memiliki cukup ikan, mulai menyimpan makanan untuk diri mereka sendiri. Pasukan Qin yang datang kemudian tak lagi mendapat sambutan istimewa seperti sebelumnya.
Pasukan Qin yang kelaparan pun tak sebersahaja dulu, mereka mulai berkeliling dari rumah ke rumah untuk merampas makanan.
Mu Chen tetap pergi berburu setiap hari. Pertama, untuk menghindari pertemuan dengan pasukan Qin; kedua, untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Hujan panjang yang baru saja reda, pada tahun dengan hasil panen yang tak seberapa, kembali menambah kesulitan hidup. Sebagian besar tanaman di sawah terendam air dan membusuk, jelas tahun ini akan kembali jadi tahun bencana.
Sekarang masih cukup banyak hewan buruan yang bisa didapat, tapi Mu Chen khawatir di kemudian hari, ketika tahun-tahun sulit tiba, masih adakah sumber makanan yang melimpah untuk keluarganya.
Mu Chen kini tak pernah mengambil buruan terlalu banyak. Walaupun ia memperoleh banyak, belum tentu semuanya bisa masuk ke perutnya, Qin Niang, dan Li Niu. Ia hanya mengambil secukupnya untuk kebutuhan tiga orang, dengan sedikit sisa untuk jaga-jaga jika pasukan Qin datang merampas.
Pasukan Qin sebenarnya bisa saja berburu, hanya saja mereka sibuk melarikan diri dan tak punya mood melakukan kegiatan yang mirip hiburan itu. Daripada membidik burung dengan busur, mereka lebih memilih merampas makanan siap santap dari warga desa.
Lambat laun, keluarga Mu Chen dan pasukan Qin yang lewat pun mencapai semacam kesepakatan tak terucap: selama Qin Niang dan Li Niu menyerahkan makanan, mereka tidak akan diganggu.
Kehidupan yang relatif stabil ini membuat Mu Chen lengah. Ia hanya sibuk berburu setiap hari, pulang ketika malam tiba, lalu menikmati kebersamaan dengan dua istrinya.
Mu Chen menatap jala besar yang kini berlubang besar. Jala itu telah memberinya dan kedua istrinya puluhan ekor burung besar, tapi akhirnya tak mampu menahan serangan burung pemangsa dan rusak parah.
Di sekitar lubang, berserakan bulu-bulu berwarna abu-abu kecoklatan, ujungnya hitam legam. Dari bulu itu, Mu Chen tahu yang merobek jalanya adalah seekor alap-alap.
Dengan pasrah, ia membongkar jala itu, menambal bagian yang rusak dengan cermat, lalu menggantungnya kembali.
Hari ini mereka tak akan makan burung, Mu Chen hanya bisa memeriksa perangkap di sawah. Ia memasang beberapa perangkap di tempat kelinci liar sering lewat, hasilnya hampir tak pernah mengecewakan.
Benar saja, dua ekor kelinci terjerat dan berusaha melepaskan diri, kaki mereka semakin terluka dan berlumuran darah.
Mu Chen mengangkat dua ekor kelinci itu. Ia memperkirakan satu ekor cukup untuk makan bertiga hari ini, satu lagi akan disisihkan untuk pasukan Qin yang lewat. Jika tak ada yang lewat, tentu saja lebih baik.
Ia menunggu hingga langit mulai gelap, lalu pulang dengan dua ekor kelinci.
Belum sampai ke desa, Mu Chen sudah mencium bau yang berbeda dari biasanya. Dari banyak rumah tampak asap tebal mengepul, samar-samar ia melihat beberapa orang berpakaian prajurit Qin membawa obor dan membakar rumah-rumah.
Dua orang prajurit melempar obor ke atap rumah Qin Niang. Api langsung menyala besar ketika menyentuh jerami kering.
Mu Chen melempar kelinci hasil buruan ke tanah dan berlari menuju desa.
Di gerbang desa, ia bersembunyi di balik batu besar tempat ia dulu pertama kali datang. Setelah para prajurit selesai membakar, mereka pergi meninggalkan desa dari arah lain.
Setelah pasukan pergi, api semakin membesar, seluruh desa berubah menjadi lautan api.
Mu Chen berlari ke rumahnya. Di depan pintu, pemandangan yang ia lihat membuatnya terpaku.
Li Niu bersandar di kusen pintu, darah membasahi bagian depan bajunya, ia sudah lama tak bernyawa. Mu Chen tak punya waktu untuk larut dalam kesedihan, ia teringat Qin Niang mungkin masih di dalam rumah.
Ia segera menerobos masuk ke rumah yang penuh asap sambil memanggil-manggil nama Qin Niang.
Ia berharap Qin Niang masih hidup, meski terluka parah, asalkan masih hidup.
Asap terlalu tebal, Mu Chen menutupi hidung dengan lengan bajunya, meraba-raba dalam kegelapan.
Tiba-tiba sebuah balok kayu berapi jatuh di depannya dengan suara retak keras. Ia melompat mundur untuk menghindar, kakinya menginjak sesuatu yang terasa keras dan lembut, seperti ransel.
Ia meraba dan mendapati itu memang ranselnya, di sebelahnya tergeletak senapan setengah otomatis.
Ia segera memanggul ransel, menyandang senapan. Barang-barang ini tadinya hendak ia simpan selamanya, tapi hari ini, setelah kedua istrinya terbunuh, ia tak punya pilihan selain mengeluarkan lagi senjata itu. Jika pun Qin Niang masih hidup, ia harus membalas dendam pada pembunuh Li Niu.
Rumah terus terbakar, satu lagi balok kayu berapi jatuh. Di saat itu, Mu Chen melihat di sudut ruangan, terbaring seorang wanita dengan baju abu-abu yang sangat ia kenal.
Mu Chen bergegas ke sudut itu, mengangkat tubuh wanita yang sudah lemas itu.
Di tengah asap, ia tak bisa melihat jelas wajahnya, dan rumah yang terbakar tak memberinya waktu untuk memastikan siapa itu.
Ia menggendong wanita itu keluar rumah. Setelah di luar, ia sempat menarik pula tubuh Li Niu yang bersandar di pintu.
Baru beberapa langkah keluar, atap rumah ambruk dengan suara menggelegar.
Tubuh wanita dalam gendongannya sudah kaku. Ia meletakkan wanita itu dan Li Niu di tanah kosong tak jauh dari rumah, membaringkan mereka berdampingan.
Dengan lembut, ia membersihkan wajah wanita itu dari jelaga. Benar saja, wanita yang ia selamatkan adalah Qin Niang.
Kebahagiaan yang baru saja ia dapatkan, kini lenyap seiring kepergian kedua wanita itu. Air mata menggenang di matanya, menetes tanpa suara ke tubuh Qin Niang dan Li Niu.
Wajah terakhir Qin Niang dan Li Niu tampak penuh ketakutan. Mereka jelas tak pernah menyangka pasukan Qin akan menyerang mereka, apalagi sampai membantai seluruh desa setelah merampas makanan.
Api terus membara, asap hitam membubung di langit malam, bau daging terbakar menyelimuti desa. Ironisnya, para wanita desa yang setiap hari menantikan kedatangan pasukan Qin, kini tewas di tangan prajurit yang mereka idam-idakan, tubuh mereka hangus terbakar menjadi arang.
Mu Chen tak menjerit. Ia tahu, para prajurit itu tak mungkin pergi jauh, mungkin saja mereka bermalam tak jauh dari desa. Jika ia mengeluarkan suara, pasti akan mengundang mereka kembali.
Ia membersihkan wajah Qin Niang dan Li Niu dengan lengan bajunya, lalu berdiri, mengusap air mata dengan tangan yang kini berjelaga, membuat wajahnya yang semula bersih berubah hitam dan buram.
Ia melepas pakaian yang dijahitkan oleh kedua istrinya, mengganti dengan seragam loreng yang ia kenakan saat melintasi waktu, kembali menjadi prajurit pasukan khusus.
Dengan mata berkaca-kaca, ia melipat pakaian dari kain kasar yang penuh kenangan cinta kedua istrinya, memasukkannya ke dalam ransel—pakaian itu akan menjadi kenangan terpenting sepanjang hidupnya.
Ia mengisi senapan dengan peluru, mengokang pistol, dan menggantungkan empat granat di pinggang. Setelah sekian lama hidup damai bersama dua wanita yang mencintainya, kini segalanya direnggut oleh pasukan Qin yang kalah perang. Ia ingin membalas dendam, ingin melaksanakan misi pembunuhan, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sejak bergabung dengan Satuan Tujuh Khusus. Kali ini, targetnya adalah pasukan Qin yang berkemah tak jauh dari desa.
Dugaan Mu Chen benar, pasukan Qin berkumpul hanya sekitar dua kilometer dari desa. Mu Chen kini berbaring di semak-semak, mengamati para prajurit yang tidur berserakan di padang rumput.
Pasukan Qin yang lari kocar-kacir itu tak punya tenda, mereka hanya tidur berkelompok di rumput. Dua di antaranya memanggang seekor kelinci di atas perapian.
Mu Chen tahu, kelinci itu jelas hasil rampasan dari rumahnya. Bisa dipastikan, dua prajurit yang memanggang kelinci itu adalah pelaku pembantaian dan pembakaran rumah.
Tatapan Mu Chen menyala-nyala dipenuhi bara dendam, matanya tak lepas dari dua prajurit Qin yang sedang memanggang kelinci liar itu.