Bab Tujuh Puluh Tiga: Kesempurnaan Dalam Mengorbankan Diri
Di halaman depan rumah, Ning Ye menuangkan teh untuk Luo Qiuzhen.
Luo Qiuzhen meniup daun teh yang mengapung di permukaan air, lalu berujar santai, “Sebenarnya aku ingin memuji tehnya, tapi sayang teh ini sungguh berkualitas buruk, tak tahu harus dipuji dari mana.”
Ning Ye menyeruput tehnya perlahan, “Tapi kulihat, Penanggung Jawab sangat suka datang ke sini untuk minum teh.”
“Sebenarnya aku lebih senang mengundangmu ke tempatku untuk minum teh,” jawab Luo Qiuzhen.
Ning Ye menggeleng, “Teh di Aula Pengawasan, lebih baik tidak. Aku takut jika sudah mencoba, nanti jadi kecanduan, dan tak bisa keluar lagi.”
Luo Qiuzhen pun menghela napas, “Dunia sungguh salah paham pada Aula Pengawasan kami!”
Ning Ye berkata lembut, “Benarkah itu sekadar salah paham? Tapi kalau dipikir, kalau bukan karena pengaturan Penanggung Jawab, mungkin aku takkan mendapat kesempatan berjasa kali ini. Orang bijak berkata, kesuksesan butuh empat jenis orang: guru yang membimbing, dermawan yang membantu, keluarga yang mendukung, dan musuh yang memicu semangat. Sepertinya, pepatah itu memang benar adanya.”
Ucapan Ning Ye membuat hati Luo Qiuzhen membara, maksudnya, aku ini dianggap musuh yang memacumu untuk maju?
Semakin marah di hati, wajah Luo Qiuzhen justru semakin tenang. Ia memutar cangkir teh di tangannya, air teh membentuk pusaran tanpa tumpah setetes pun.
Luo Qiuzhen berkata dengan nada dingin, “Tapi benar juga, sepertinya Ning Ye memang membawa sial. Ke mana pun kau pergi, selalu ada masalah.”
Ning Ye mengangguk sungguh-sungguh, “Perkataan Penanggung Jawab meski terdengar kurang enak, namun memang ada benarnya. Aku pun heran, kenapa aku selalu sial, selalu menemui masalah yang bikin kesal. Untungnya, aku ini orang yang beruntung, sejauh ini tak terjadi masalah besar, hanya orang di sekitarku yang apes. Jangan-jangan aku ini bintang pembawa bencana, tak cocok bekerja bersama orang lain? Kalau begitu, Penanggung Jawab harus hati-hati, jangan terlalu dekat denganku, nanti bisa-bisa bernasib mengenaskan.”
Luo Qiuzhen tertawa terbahak-bahak, “Bagus sekali! Kalau kau benar-benar bisa membuatku celaka, aku pun terima. Hanya saja, aku ragu kau punya kemampuan itu.”
Ning Ye tersenyum, “Mana mungkin aku berani berbuat begitu? Ini hanya peringatan baik saja. Kalau Penanggung Jawab ragu padaku, bisa langsung membawaku ke Aula Pengawasan untuk diinterogasi... Toh, hal seperti itu sudah sering dilakukan oleh Aula Pengawasan.”
Luo Qiuzhen mengangguk, “Memang aku pernah berpikir begitu, bahkan menyesal kenapa tidak melakukannya lebih awal.”
“Kau masih sempat melakukannya sekarang!”
Tapi Luo Qiuzhen menggeleng, “Sudah terlambat. Sekarang kau orang berjasa, Xu Yanwen dan Chi Wanqing juga sudah jadi teman baikmu, bahkan Nona Chang pun berhutang budi padamu. Kalau aku menangkapmu sekarang, akan banyak yang terseret.”
Rencana Ning Ye akhirnya membuahkan hasil. Luo Qiuzhen kini agak ragu untuk menangkapnya.
Namun keraguan itu masih belum cukup besar!
Maka Ning Ye berkata, “Yin Tianzhao menyuruh Li Yunjin menyamar sebagai dirinya, tapi Chang Yuyan tak tahu. Akhirnya Li Yunjin malah tidur bersama Chang Yuyan dengan mengaku sebagai Yin Tianzhao.”
“Apa katamu?” Luo Qiuzhen sangat terkejut.
Ia segera menyadari maksud ucapan Ning Ye, dan langsung berdiri, “Kau menjebakku?”
Ning Ye pun berdiri perlahan, menatap Luo Qiuzhen, “Penanggung Jawab ingin menangkapku? Silakan, aku tak keberatan. Tapi jika tak ada bukti, jangan sembarangan. Sekarang kau pun telah tahu rahasia ini. Kalau aku ditangkap dan rahasianya bocor... kau tahu sendiri akibatnya.”
Brengsek!
Luo Qiuzhen sampai gemetar menahan marah.
Ning Ye melanjutkan, “Aku tahu Penanggung Jawab ingin meraih prestasi, itu bisa kupahami. Tapi sungguh aku tak ingin ke Aula Pengawasan. Tempat macam apa itu, kau lebih tahu. Orang masuk, keluar sudah bukan manusia. Penyiksaan dan fitnah, sudah jadi hal biasa. Aku yakin belum pernah berbuat salah pada Istana Hitam Putih, tapi kalau kau tetap curiga, aku pun tak bisa apa-apa. Hanya berharap kau tetap adil. Jika nanti kau benar-benar menemukan bukti kesalahanku, silakan bertindak, aku takkan membantah. Tapi tolong, jangan memaksakan pengakuan lewat penyiksaan.”
Sambil bicara, ia melambaikan tangan sebagai isyarat mengusir tamu.
Luo Qiuzhen menarik napas dalam-dalam, “Baik, baik, hebat sekali! Ning Ye, karena kau yakin tak bersalah, aku akan menunggu dan melihat.”
Selesai berkata, ia mengibaskan lengan bajunya dan pergi.
Sekarang ia benar-benar menyesal, seharusnya sejak awal ia langsung menangkap Ning Ye dan menginterogasinya dengan keras.
——
“Orang itu sekarang benar-benar mengawasi gerak-gerikmu,”
Setelah kembali ke dalam rumah, Tianji berkata sambil menghela napas.
“Tak masalah, memang dari dulu dia tak pernah melepaskanku,” Ning Ye tersenyum dingin. “Masalah terbesar Luo Qiuzhen adalah dia masih punya ambisi pribadi. Selama ia punya keinginan sendiri, dia takkan berani gegabah hanya demi menangkapku. Tapi yang tak ia sadari, makin lama ia menunda, makin sulit baginya untuk bertindak terhadapku.”
“Kau berniat membuat namamu besar di Istana Hitam Putih?” Tianji mengerti maksudnya.
“Itu semua karena dia memaksaku,” jawab Ning Ye.
Dulu, Ning Ye selalu berusaha rendah hati, menyelesaikan segala sesuatu di balik layar.
Tapi karena kecurigaan Luo Qiuzhen, Ning Ye terpaksa tampil mencolok, hanya dengan menunjukkan kemampuan barulah ia bisa melindungi diri sendiri.
Seiring waktu, kecurigaan Luo Qiuzhen akan makin besar, dan kekuatan serta status Ning Ye sendirilah yang bisa melindunginya. Luo Qiuzhen pun akan sadar, ia makin sulit menyentuh Ning Ye.
Tentu itu bukan perasaan yang enak.
“Oh ya, bagaimana keadaan Gu Xiaoxiao sekarang?” tanya Ning Ye.
“Gadis itu berbakat, Tianji Xinfa-nya sudah sampai tingkat tiga, Dao Wuji pun sudah mulai dikuasai, kemajuannya bahkan lebih cepat dariku,”
Ada nada iri dalam suara Tianji saat berkata demikian.
Tianji juga mempelajari jurus-jurus dalam Catatan Tianji, tapi mungkin karena ia bukan manusia, kemajuannya terbatas. Sebaliknya, teknik meloloskan diri dalam tanahnya makin hebat, meski kekuatan bertarung biasa saja, tapi kemampuan kaburnya sudah sangat mumpuni.
“Lumayan juga,” pikir Ning Ye, lalu berkata, “Kalau begitu, saatnya kita serahkan tugas itu padanya.”
——
Hari-hari berikutnya, Ning Ye terus berlatih keras. Di satu sisi ia mencerna semangat Tujuh Pembunuhan yang diberikan Zhang Liekuang, di sisi lain ia berusaha menembus tingkat enam dalam pembuatan jimat.
Walaupun kini ia telah memiliki Pena Jimat Putih Merah, membuat jimat tingkat enam tetap bukan hal yang mudah.
Butuh dua bulan bagi Ning Ye untuk akhirnya berhasil membuat satu jimat tingkat enam, tingkat keberhasilannya sangat rendah.
Tapi Ning Ye tak terburu-buru. Setelah berhasil membuat satu, ia percaya akan bisa membuat yang kedua, dan dengan semakin banyak keberhasilan, tingkat keberhasilannya pun akan meningkat.
Namun selama Ning Ye masih mengandalkan Pena Jimat Putih Merah untuk membuat jimat tingkat enam, secara ketat ia belum bisa disebut sebagai Ahli Jimat Tingkat Enam.
Ia sadar, perjalanannya masih panjang.
Sebaliknya, kemajuan Pedang Pembunuhnya sangat terasa.
Setelah menyerap semangat Tujuh Pembunuhan dari Zhang Liekuang dan semangat Pedang Matahari dari Ming Siyi, kekuatan Pedang Pembunuh Ning Ye pun meningkat tajam.
Hari itu, Ning Ye tengah berlatih di halaman, pikirannya dipenuhi bencana yang menimpa Sekte Tianji. Ia mengaktifkan Teknik Menipu Langit, terus-menerus memanipulasi pikirannya sendiri, hingga merasa di mana-mana ada musuh, hati dipenuhi hasrat membunuh, makin sedih makin kuat keinginan membunuh.
Swish!
Tiba-tiba Ning Ye menebas dengan telapak tangannya, membelah sebuah batu besar di depannya menjadi dua bagian yang halus. Pada saat itu, Pedang Pembunuh miliknya akhirnya memiliki kekuatan layaknya pedang sejati, melampaui batas seni bela diri biasa, memasuki ranah spiritual.
Ketika hati pembunuh telah sempurna, tiada yang tak berani ia tebas, tiada takut pada surga dan bumi.
Ketika tubuh pembunuh telah sempurna, tubuh pun menjadi pedang, daging dan darah pun jadi senjata.
Pedang Pembunuh, akhirnya mencapai kesempurnaan!