Tuan rela mati
Entah karena merasa tak nyaman setelah lama dipandangi, tiba-tiba Pangeran Kedua menangis nyaring, membuat Ning Siyuan tersentak kaget. “Di mana pengasuhnya?”
Ning Siyuan segera melangkah maju, menggendong anak itu dan mengayunkannya beberapa kali. Tangisannya pun langsung berhenti. Kebetulan saat itu pengasuh bergegas masuk dari luar, lalu menerima kembali si kecil.
“Tak kusangka Permaisuri begitu pandai menenangkan anak kecil,” ucapnya dengan senyum di mata. Tatapan lembut perempuan itu pada anak kecil begitu bersih, tak ada lagi dingin dan acuh seperti biasanya, menebarkan rasa damai dan hangat di hati.
“Aku dulu pernah merawat adik laki-lakiku waktu kecil.” Ia sedang menyeka air liur Pangeran Kedua yang menetes di lengan bajunya dengan saputangan. Mendadak ia teringat bahwa ini bukan di rumah sendiri, apalagi Ning Qiushui tak pernah punya adik laki-laki. Sontak ucapannya jadi tak wajar, ia buru-buru menambahkan, “Maksudku anak kecil dari keluarga lain.”
Tatapannya bertemu dengan Zhaowan, tapi tak ada reaksi berarti dari pria itu. Bagi Zhaowan, asal-usulnya memang selalu menjadi misteri.
Bersama pengasuh, masuk pula dayang utama dari Istana Junyuan. Ia berkata seolah tanpa maksud, “Begitu Permaisuri Jia menimang Pangeran Kedua, langsung saja tangisnya reda. Sepertinya memang berjodoh.”
Mendengar itu, Ning Siyuan tersenyum, menyerahkan saputangan pada Xiao Zhu, lalu berkata, “Paduka, hamba merasa lelah.”
“Baiklah, kembalilah ke istana.”
Beberapa hari belakangan, kondisi Junyuan tampak stabil. Namun di dalam istana, pembicaraan tentang siapa yang harus mengasuh kedua pangeran tak kunjung reda. Mereka bilang salah satu sebaiknya diasuh Permaisuri An, sementara satunya lagi mungkin akan dibawa ke kediaman Ning Siyuan. Ia sendiri enggan memikirkannya, tapi orang lain justru lebih sibuk mengatur.
Di medan perang, segala sesuatunya kacau balau. Putri Yi'an diantar pasukan kembali ke ibu kota, sepanjang jalan senantiasa diiringi denting senjata dan bahaya yang mengintai.
Aneh memang, Putri Yi'an bisa kembali lebih dulu, namun Pangeran Huai justru tak kunjung pulang. Ada sesuatu yang ganjil di balik semua ini.
Junyuan tak akan bertahan lama! Menjelang ajal, ia ingin menyampaikan sesuatu pada Ning Siyuan.
Pasti ia akan kembali menitipkan Pangeran Kedua padanya. Tampaknya kali ini Junyuan benar-benar tak sanggup bertahan lagi. Meski Ning Siyuan enggan menerima anak itu, ia harus memberi Junyuan ketenangan terakhir.
Aroma obat di dalam ruangan sudah lenyap, berganti wangi dupa yang segar. Di bawah remang senja, siluet tubuh kurus perempuan itu samar terlihat, seolah cahaya langit yang tak bisa digenggam.
“Permaisuri, tentang Pangeran Kedua...”
Ning Siyuan menggenggam tangannya. “Aku bisa merawatnya, tapi syaratnya aku akan membantunya merebut tahta putra mahkota.”
“Tidak, jangan...”
“Anakmu akan dianggap sebagai darah daging Pangeran, kelak dia akan membantu dan melindunginya. Maka tak akan ada lagi cemooh soal asal usul ibunya.” Ia sendiri tak tahu anak yang dikandungnya laki-laki atau perempuan. Ia butuh jaminan kemuliaan serta kekuasaan, tapi tak ingin anak kandungnya sendiri menjadi sorotan dan bahan pergunjingan.
Junyuan terlalu lembut, mana mungkin ia rela anaknya terjerumus dalam perebutan kekuasaan setelah ia tiada? Ia menengadah, air matanya jatuh deras. “Anak itu darah daging Pangeran.”
“Apa?” Ia ingat Zhaowan pernah berkata, Su Huichu belum pernah bersentuhan dengan perempuan.
“Akulah yang menggunakan cara lain untuk menipunya. Ia mengira semua hanya mimpi indah, sama sekali tak ingat apa pun. Ia seharusnya bisa menjaga kesucian untuk Putri, tapi akulah yang menghancurkan harapannya. Jika ia kembali, kumohon simpan rahasia ini, jangan sampai melukai hubungannya dengan Putri. Jika ia benar-benar tak kembali, maka anak ini... adalah warisan terakhir untuknya. Kumohon, lindungi anak ini.”
Keluar dari ruangan itu, Ning Siyuan merasa kedua kakinya lemas. Manusia punya dua sisi. Orang yang tampak paling polos pun menyimpan kebusukan tak terduga di dalam hati. Segala keegoisan akan memberi beban dan akibat pada orang lain yang seharusnya tak perlu menanggungnya.
Setelah Junyuan wafat, ia memang bersedih, tetapi dalam kenangannya terselip amarah yang tak pernah tersalurkan.
“Menanggapi titah Permaisuri, tentang siapa yang menyebarkan kabar kepulangan Putri ke telinga Yin Wanyi, hamba sudah menemukan jejaknya. Pada hari itu, tepat ketika keluarga Permaisuri An datang berkunjung ke istana, setelahnya para dayang dari berbagai istana lalu-lalang. Hamba juga sudah bertanya pada para dayang Yin Wanyi semasa hidup, memang benar mereka mendengar kabar kematian Pangeran dari pihak Permaisuri An.”
Yang melapor adalah Xiao Houzi, orang kepercayaan yang dihadiahkan Kaisar pada Ning Siyuan. Ia yakin Zhaowan pun pasti sudah tahu kebenaran yang ia temukan.
Ia berharap Permaisuri An mendapat hukuman, tapi Menteri An selalu dipercaya dalam pemerintahan, sungguh tak mudah menjatuhkan sanksi padanya. Tanpa sadar, ia mulai memikirkan kesulitan yang harus dihadapi Zhaowan.
Perintah penganugerahan gelar anumerta untuk Junyuan sudah dikeluarkan. Ia sendiri paling tak peduli pada kehormatan semu seperti itu. Nama baik setelah mati, sama sekali tak berarti apa-apa baginya.
Zhaowan duduk sebentar di kamar tidurnya. Mereka saling berpandangan, mata mereka tenang dan datar.
“Melihat keadaanmu, pasti sebentar lagi waktunya bersalin. Aku sudah meminta dapur istana menyiapkan berbagai jamu dan makanan bergizi, Tabib Istana pun sudah bersiap, semua bidan pun dipilih dengan saksama oleh Tang Xiaoliao. Sekarang kau hanya perlu beristirahat, kumpulkan tenagamu.”
Beberapa hari terakhir, Zhaowan selalu datang menjenguknya. Menjelang kelahiran, tentu saja ia tak bisa berpura-pura tenang. Mungkin di balik rasa takut yang tersembunyi, justru perasaanlah yang paling jujur dan nyata. Ia membutuhkan seseorang yang bisa memberikan ketenangan dan menghapus kegusarannya.