Bab Tiga Puluh Dua: Rapat Rutin
Setelah merapikan tempat tinggalnya, Zhou Ziling segera mulai berlatih Ilmu Xuangong Guangcheng. Saat ini, ia hanya bisa melihat dua baris mantra, sekitar empat puluh kata. Sekilas saja, Zhou Ziling sudah menyadari keunikan ilmu ini. Ilmu Xuangong Guangcheng menekankan pada prinsip mengikuti alam, tidak memaksakan kehendak, segalanya berjalan sesuai hati. Seluruh teknik ini lebih condong pada bimbingan, bukan aturan baku.
Karena itulah, setiap murid Gunung Abadi Qiyun, ketika berlatih ilmu ini, selalu memiliki ciri khasnya masing-masing. Walaupun mereka belajar teknik yang sama, hasil yang didapatkan tetap berbeda. Hal ini juga menjadi alasan mengapa ilmu Xuangong Guangcheng tidak mengenal kata cocok atau tidak cocok.
Siapa pun bisa mempelajari Xuangong Guangcheng. Tidak ada perbedaan dalam hal bakat, sifat, ataupun karakter.
Kemakmuran Gunung Abadi Qiyun terletak pada satu hal: sebuah teknik kuat yang dapat dipelajari semua kalangan.
Sedangkan Ilmu Zhengyi Miaofa adalah teknik yang sangat teratur, penuh aturan dan tuntutan. Persyaratan bagi pelakunya cukup tinggi, menuntut dasar yang kuat dan asal-usul yang jelas. Meski teknik ini kurang fleksibel dan dinamis, namun justru karena keteraturannya, para pelatih bisa dengan mudah menemukan kunci berlatih.
Artinya, dengan berlatih Zhengyi Miaofa, banyak pelajaran dari pengalaman terdahulu yang dapat dijadikan acuan, sehingga jalan pintas menuju keberhasilan bisa ditemukan. Karena menuntut murid yang berkualitas tinggi, maka mereka yang berhasil dalam ilmu ini biasanya mampu meninggalkan nama di dunia para pendaki abadi.
Sementara itu, Sutra Prajna lebih berfokus pada kekuatan batin. Ajaran Buddha menitikberatkan pada kekuatan diri sendiri, tidak bergantung pada kekuatan luar, hanya mengandalkan pencapaian diri. Oleh sebab itu, dalam ajaran Buddha sangat jarang ditemukan teknik yang menyerap energi luar, hampir semuanya bertujuan mengolah kekuatan diri sendiri.
Kelebihan utama teknik ini adalah, dalam pertarungan setingkat, para murid Buddha bisa mengandalkan fisik yang kuat untuk meraih keunggulan. Seperti yang pernah dilihat Zhou Ziling sebelumnya, meskipun sama-sama berada di tahap pembentukan inti, murid Buddha jauh lebih unggul daripada para Taois. Jika bukan karena pertarungan akhirnya harus mempertaruhkan inti batin, keempat murid Zhengyi itu pasti sudah gugur tanpa perlawanan.
Setelah melihat ilmu Xuangong Guangcheng, Zhou Ziling tidak ragu lagi dan mulai berlatih sesuai mantranya. Ia menggerakkan kekuatan sejati dari dantian, menuntunnya mengalir mengikuti pola tertentu. Seluruh meridian tubuhnya pun perlahan berubah dan berpindah.
Setelah satu siklus penuh, Zhou Ziling merasakan energi spiritual di sekitarnya laksana aliran sungai besar, tak henti-hentinya menerobos masuk ke tubuhnya. Ia merasakan kepuasan yang belum pernah dialami sebelumnya, seakan kembali berenang di Sungai Surga. Kekuatan sejati mulai mengalir stabil sesuai tuntunan Xuangong Guangcheng.
Meridian tubuhnya mulai berubah di bawah aliran kekuatan sejati, beberapa cabang meridian berpindah tempat. Tak heran orang hanya bisa berlatih satu teknik, sebab jalur meridian yang sudah diubah tak akan cocok dengan teknik lain.
Tanpa sadar, Zhou Ziling telah berlatih puluhan siklus, menstabilkan jalur meridian dan aliran kekuatan sejatinya. Segera, ia menemukan setiap titik akupuntur membentuk pusaran kecil yang menyerap energi spiritual dari luar, mengubahnya menjadi kekuatan sejati, lalu melepaskannya ke dalam meridian, memperkuat cadangan kekuatan sejati.
Setelah mengalirkan delapan puluh satu siklus lagi, kekuatan sejati mulai mengalir sendiri tanpa perlu bimbingan Zhou Ziling. Ia tahu, ia telah berhasil menembus lapisan pertama ilmu Xuangong Guangcheng.
Baru saja hendak keluar dari meditasi dan melihat lapisan berikutnya, ia menyadari dua sistem meridian di tubuhnya yang lain tidak mengalami perubahan. Walaupun sistem dantian sudah mengikuti pola Xuangong Guangcheng, sistem titik tengah dada dan sistem titik puncak kepala masih berjalan dengan cara bebas.
Zhou Ziling segera menyadari ini adalah peluang emas. Setelah menganalisa sejenak, ia mengendalikan sistem titik tengah dada untuk beroperasi sesuai pola Sutra Prajna. Ia memilih titik tengah dada karena pola khusus Sutra Prajna: teknik ini menuntut penyulingan kekuatan diri, tanpa bantuan luar, sehingga harus mengaktifkan seluruh titik dan meridian tubuh secara bersamaan.
Sutra Prajna berpusat pada satu inti utama, lalu melepaskan kekuatan ke seluruh meridian, kemudian menariknya kembali ke inti. Ini sangat mirip dengan cara kerja jantung manusia yang memompa darah ke seluruh tubuh dan kemudian menariknya kembali. Detak jantung sesuai dengan pola peredaran Sutra Prajna.
Dengan detak jantung, seluruh titik dan meridian tubuh bisa teraktivasi, seolah setiap bagian tubuh bisa merasakan getaran jantung. Walau ada bagian tubuh yang jauh dari jantung, tetap saja mengikuti frekuensi detak yang sama. Tidak ada sistem di tubuh yang lebih kuat dari jantung sebagai pusat.
Tak lama, sistem titik tengah dada pun menyesuaikan diri dengan peredaran Sutra Prajna. Karena memang sudah menyatu secara alami, hampir tidak memerlukan tuntunan apa pun.
Selanjutnya, Zhou Ziling mengaktifkan sistem titik puncak kepala dengan pola Zhengyi Miaofa. Teknik ini hanya mengizinkan inti pusat menyerap energi luar, lalu melepaskannya ke meridian, dan dari meridian kembali ke inti. Zhou Ziling samar-samar menyadari, prinsip otak dalam mengendalikan gerak tubuh dan reaksi juga serupa.
Otak mengirimkan sinyal, mengendalikan gerak tubuh, lalu tubuh mengirimkan umpan balik ke otak. Yang terpenting, titik-titik akupuntur di otak sangat rapat, bahkan orang biasa pun, titik-titik ini selalu aktif. Dengan koordinasi lima titik, energi spiritual bisa diserap dengan cepat dan efisien, lalu didistribusikan ke sistem meridian.
Zhengyi Miaofa pun dengan cepat dikuasai. Zhou Ziling kini mengalirkan tiga teknik sekaligus dalam tubuhnya, namun tidak merasakan ketidaknyamanan apa pun. Ketiga sistem itu saling terhubung tetapi tetap mandiri. Ia bahkan merasa sejak awal memang seharusnya tubuhnya berfungsi seperti itu.
Zhou Ziling tak tahu, tubuh manusia memang terdiri dari berbagai sistem yang berbeda, bekerja sama dan saling melengkapi, sehingga manusia bisa hidup normal. Ia hanya mengikuti cara kerja tubuh alami saja.
Zhou Ziling larut dalam dunia latihannya, tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Hingga terdengar suara gadis yang lantang, barulah ia kembali ke dunia nyata.
Zhou Ziling langsung melompat melewati air terjun, tiba di halaman, dan melihat perempuan yang kemarin menuntunnya tengah berdiri di depan pintu, berusaha keras mengetuk pintu.
Segera Zhou Ziling memberi salam dan bertanya, “Kakak senior, ada keperluan apa mencariku?”
“Bai Yunzi! Benar-benar berani kau!” Sang perempuan berbalik dan membentak, “Guru memanggilmu, tapi kau pura-pura tidak tahu? Apa lonceng ini rusak? Atau telingamu tuli? Atau kau memang tak hormat pada guru?”
Zhou Ziling melirik lonceng itu, lalu menjawab, “Kakak senior, menurutku lonceng ini memang sudah rusak!”
Perempuan itu berbalik dengan geram, dan ternyata benar, ekor lonceng sudah copot, hanya tersisa cangkang kosong, tentu saja tak bisa berbunyi. Ia pun melompat memeriksa dan mendapati lonceng itu memang sudah lama rusak, bukan ulah Zhou Ziling.
Wajah perempuan itu berubah, lalu berkata dengan sedikit canggung, “Kalau begitu, ganti saja loncengnya. Kalau tahu rusak, seharusnya kau cari orang untuk memperbaiki. Guru sudah menanti di Aula Bulan Jatuh, para kakak dan adik juga sudah berkumpul.”
Selesai bicara, ia segera berjalan pergi. Zhou Ziling buru-buru mengikutinya, dalam hati bergumam, “Untung lonceng itu rusak, kalau tidak, pasti aku sudah kena omelan habis-habisan!”
Setiba di Aula Bulan Jatuh, para murid perempuan menatap Zhou Ziling dengan marah. Ia murid baru, tapi membuat mereka menunggu lama. Biasanya perempuan yang suka terlambat, kini malah sebaliknya.
Wajah Bingyu tampak tak senang, ia membentak, “Bai Yunzi! Apa maksudmu? Menganggap panggilan guru hanya angin lalu?”
Perempuan yang tadi hendak bicara, namun Zhou Ziling segera memberi salam dan mendahului, “Guru, lonceng di samping rumahku sudah lama rusak, belum sempat aku perbaiki. Untung kakak senior datang memanggil, kalau tidak aku masih tertidur.”
“Tertidur?” Bingyu menegur, “Diberi paviliun sendiri supaya berlatih sungguh-sungguh, malah tidur? Ini sudah siang!”
“Murdi tahu salah!” Zhou Ziling menyesal, “Saya rela menerima hukuman.”
Melihat Zhou Ziling mengakui kesalahan, perempuan itu pun diam dan mundur.
“Tak perlu!” Bingyu menggeleng pasrah. Zhou Ziling adalah murid kebanggaan Yun Yazhi. Secara nama ia hanya kakak senior, namun di mata Yun Yazhi, posisinya tak lebih dari Zhou Ziling. Karena ia sudah mengakui kesalahan, maka lebih baik dimaafkan saja.
Bingyu menatap Zhou Ziling dengan curiga, “Kau sudah menembus lapisan pertama Ilmu Xuangong Guangcheng? Baru sehari.”
Zhou Ziling buru-buru mengeluarkan kitab Xuangong Guangcheng, membukanya dan menemukan dua baris lagi, juga berisi empat puluh kata. Ia pun berkata, “Ada tambahan dua baris, saya tak tahu…”
“Itu tandanya kau sudah berhasil!” Bingyu tersenyum, “Benar-benar berbakat, bisa menembus lapisan pertama hanya dalam sehari. Soal tidurmu, tak perlu aku permasalahkan lagi.”
“Terima kasih, Guru!” Zhou Ziling segera berterima kasih.
Para murid perempuan yang mendengar pun tampak terkejut, namun rasa tidak senang di mata mereka belum hilang.
Bingyu berdehem, lalu memberi perintah, “Aku kumpulkan kalian di sini untuk memberitahu, dua tahun lagi akan ada kompetisi internal. Di antara kalian, yang bisa ikut bertanding baru tahap awal keluar jiwa. Kalau ingin hasil bagus, berlatihlah dengan giat. Jangan terlalu sering berbicara dengan para murid laki-laki. Ingat, laki-laki yang belum mencapai tahap pembentukan inti belum bisa diandalkan. Sebelum mencapai tahap itu, mungkin seumur hidup mereka akan tetap di sana. Dulu banyak pemuda hebat yang tampak cemerlang, tapi puluhan tahun tanpa kemajuan. Ingat baik-baik, andalkan kekuatan sendiri, itulah kemampuan sejati.”
“Baik, Guru!”
Bingyu melambaikan tangan, berkata perlahan, “Semua boleh bubar. Rapat rutin selesai.”
“Baik, Guru!” Semua murid pun keluar.
Bingyu berkata, “Bai Yunzi, segeralah ambil pakaian baru. Jangan pakai baju hijau lagi. Kau sekarang murid wilayah tengah. Ingat, pakaian murid Gunung Bulan Jatuh bersulam bulan. Jangan sampai salah orang.”
“Baik, saya mengerti!” Zhou Ziling mengangguk dan mundur.
Saat keluar dari Aula Bulan Jatuh, perempuan yang membimbingnya berkata cepat, “Setiap tujuh hari ada rapat rutin, jangan lupa!” Lalu ia pun pergi.
Zhou Ziling sempat tertegun, lalu tersenyum tipis. Sepertinya kesannya di mata perempuan itu mulai membaik.