Bab Delapan Puluh Lima: Mengintip Perempuan Bangsawan Mandi
Mu Chen bangkit duduk, bersendawa karena mabuk, lalu mendongakkan kepala memandang beberapa prajurit Chu itu. “Aku, Mu Chen.”
“Panglima Muda Mu!” Begitu melihat Mu Chen, para prajurit Chu itu segera setengah berlutut memberi hormat. “Kami tak tahu Panglima Muda Mu ada di sini, sungguh lancang kami, mohon maafkan!”
“Tak apa, bangun saja!” Mu Chen melambaikan tangan pada mereka. Para prajurit itu pun berdiri, lalu berbaris melewati Mu Chen.
“Tunggu sebentar!” Setelah mereka lewat, Mu Chen seakan teringat sesuatu, seketika melonjak berdiri, menepuk-nepuk tanah dan daun yang menempel di celananya, lalu berkata, “Aku ikut kalian berpatroli.”
Para prajurit Chu itu saling berpandangan, melihat Mu Chen yang jelas-jelas habis minum. Mereka sebenarnya ingin membujuk Mu Chen agar beristirahat saja, tapi juga tak berani menentang kehendak seorang panglima muda yang kini sangat dihormati di seluruh pasukan.
Kawasan perkemahan yang menampung seratus ribu tentara itu sangat luas. Setelah Xiang Yu dan Liu Bang membawa pasukan berangkat, masih tersisa ribuan tenda di sini. Mu Chen berjalan di depan para prajurit Chu itu, sepanjang jalan mereka juga berpapasan dengan beberapa regu patroli. Setiap kali para penjaga itu melihat Mu Chen, wajah mereka selalu penuh kekaguman, membuat Mu Chen merasa dirinya melayang tinggi.
Tanpa terasa, Mu Chen dan rombongannya sudah memasuki kawasan perkemahan pasukan Liu Bang. Xiang Yu dan Liu Bang memang memimpin pasukan bersama, meski masing-masing memegang pasukan sendiri-sendiri, namun tenda kedua pasukan terhubung, dan patroli pun dilakukan bersama, sesuai standar satu kawasan. Kedua belah pihak bahkan turut membantu menjaga wilayah satu sama lain.
Saat melewati sebuah tenda yang ukurannya hampir sama dengan tenda Liu Ru, Mu Chen mendengar suara gemericik air dari dalam.
“Kenapa di tenda ini terdengar suara air?” Mu Chen menoleh dengan heran menatap tenda kecil itu.
Beberapa prajurit Chu yang mengikutinya adalah anak buah Xiang Yu, jadi mereka hanya tahu secara garis besar tata letak perkemahan Liu Bang, tapi tak tahu siapa saja yang tinggal di tiap tenda. Mereka semua menatap Mu Chen, menggelengkan kepala dengan bingung.
“Yuk kita cek!” ujar Mu Chen sambil berbalik melangkah menuju tenda sumber suara air itu.
Tenda ini ukurannya mirip dengan tenda Liu Ru, tak ada penjaga di luar. Mu Chen mendekat, menajamkan telinga mendengar suara dari dalam.
“Permisi Nyonya, perlu ditambah air panas?” Di antara suara gemericik air, Mu Chen mendengar suara perempuan muda.
“Tak perlu, aku sudah selesai mandi. Ambilkan kain lap, aku mau mengeringkan badan.” Suara perempuan muda yang penuh pesona terdengar samar dari balik kain tenda ke telinga Mu Chen.
“Astaga!” Mu Chen yang mabuknya belum sepenuhnya hilang, menyeringai geli, dalam hati berkata, “Ternyata ada perempuan sedang mandi di dalam, entah istri siapa.”
“Kecuali Liu Bang, rasanya tak ada lagi yang berani membawa perempuan ke perkemahan ini. Katanya Liu Bang memang rakus harta dan perempuan, tak tahu istri siapa lagi yang berhasil dia giring ke mari. Dasar licik, menyembunyikan perempuan di kamp tanpa aku tahu.” Mu Chen menoleh ke para prajurit Chu yang berdiri tak jauh, sebuah ide gila tiba-tiba muncul di benaknya, “Pemandangan langka seperti istri Liu Bang mandi, kalau cuma aku yang lihat rasanya kurang seru, mending ajak saja para prajurit bego itu buat nonton bareng.”
Dengan pikiran itu, ia menghunus pedang dari pinggang, lalu diam-diam mengiris kain tenda, mengintip ke dalam. Ia melihat seorang wanita berusia sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun sedang duduk berendam dalam bak kayu besar berisi air.
Karena pencahayaan tenda redup, wajah wanita itu tak begitu jelas terlihat. Sebenarnya, walau pun jelas, Mu Chen juga tak akan mengenalinya; sejak bergabung dengan Liu Bang, selain Liu Ru, ia belum pernah melihat perempuan lain yang terkait dengan Liu Bang.
Tubuh wanita itu hampir seluruhnya terendam air, hanya lengan putih mulus seperti akar teratai yang tampak, sibuk mengusap pundaknya. Bagian lain tak terlihat sama sekali, membuat Mu Chen agak kecewa. Ia pun menoleh pada para prajurit Chu yang tak jauh dan memberi isyarat dengan jari di bibir agar mereka diam.
Para prajurit itu merasa heran dengan tingkah Mu Chen, tapi tetap menurut, mereka mendekat dengan hati-hati.
Mu Chen menunjuk ke celah tenda yang ia buat dengan pedangnya, memberi isyarat agar mereka ikut mengintip. Dua prajurit yang agak pemberani mendekat, sementara yang lain berjaga di samping, waspada.
Sebelum mengintip, dua prajurit itu sempat melirik Mu Chen dengan tatapan bertanya. Begitu melihat Mu Chen mengangguk-angguk dengan senyum nakal, barulah mereka menempelkan mata ke celah tenda.
Begitu mereka mengintip, ekspresi wajah mereka berubah-ubah, mulai dari menelan ludah, lalu canggung hendak mengalihkan pandangan, tapi tetap saja tak mau melepaskan pandangan.
Melihat reaksi dua rekannya, prajurit lain jadi makin penasaran. Mu Chen pun kembali mengiris dua celah sempit lagi di tenda, memberi isyarat diam, lalu melambaikan tangan mempersilakan mereka ikut mengintip.
Setelah wanita itu selesai mandi, dayang di samping membantunya keluar dari bak, lalu mengelap tubuhnya dengan kain sutra.
Wanita itu sama sekali tak tahu, saat dayangnya membantu mengeringkan tubuh, keindahan tubuhnya yang mulus telah terlihat jelas oleh sekelompok pria dari luar tenda.
Mu Chen diam-diam menggeleng-geleng kagum, memuji tubuh wanita itu yang indah dan menggoda. Tiba-tiba, entah siapa dari prajurit itu, terdengar suara menelan ludah keras.
“Lan Er, coba lihat ke luar, siapa itu?” Suara menelan ludah itu terdengar jelas ke telinga wanita yang sedang mengeringkan tubuh, membuatnya menoleh waspada ke arah pintu tenda dan memerintahkan dayangnya.
Dayang itu mengiyakan, meletakkan kain di tepi bak, lalu berjalan ke luar tenda.
Melihat situasi itu, Mu Chen langsung merasa tak enak. Ia segera memberi isyarat pada para prajurit, yang segera berbaris rapi di belakang Mu Chen dan berjalan menjauh dengan tenang.
Keluar dari tenda, Lan Er menoleh ke kanan-kiri. Selain regu patroli, ia tak melihat siapa pun. Ia menggaruk kepala, hendak kembali ke dalam menenangkan nyonya, tiba-tiba ia melihat ada beberapa sobekan di kain tenda.
“Ya!” Lan Er menjerit pelan, menutup mulutnya, menoleh ke sekeliling, dan akhirnya berteriak pada Mu Chen dan rombongan yang berjalan menjauh, “Jenderal di depan, mohon tunggu sebentar!”
Mendengar panggilan itu, jantung Mu Chen langsung berdebar. Mengintip perempuan mandi memang seperti jadi pencuri. Namun mentalnya cukup kuat, ia hanya mengatur napas sebentar, lalu wajahnya kembali tenang.
Ia menoleh ke belakang, melihat para prajurit di belakangnya semua tampak gugup seperti tertangkap basah. Mu Chen pun sengaja berbicara lantang, “Kalian semua tetap di sini, aku mau lihat apa yang dibutuhkan nona itu.”
Para prajurit langsung menjawab, berdiri tegak dengan sikap militer yang sangat rapi, seperti tiang yang tertancap di tanah.
Mu Chen memegang pedang, berjalan santai ke hadapan Lan Er, lalu membungkuk memberi hormat, “Saya Mu Chen, sedang berpatroli di dalam perkemahan. Ada yang bisa saya bantu, Nona?”
Lan Er memberi hormat, lalu menunjuk sobekan di tenda, bertanya, “Jenderal, saat lewat tadi, apakah melihat orang mencurigakan? Tenda nyonya saya digunting dari luar, untung tidak membahayakan nyawa beliau.”
Mu Chen berpura-pura memeriksa sobekan itu, mengerutkan kening dan berkata dengan nada heran, “Ini jelas digunting senjata tajam, apa mungkin ada pembunuh ingin melukai nyonya Anda?”
Lan Er terkejut, menutup mulut dan menjerit.
Mu Chen hendak terus menakut-nakuti gadis bodoh itu, tiba-tiba tirai tenda tersingkap, dan keluarlah seorang wanita matang yang penuh wibawa.
Dari segi paras, wanita ini memang tak secantik Su Liang atau Yu Ji, tapi ada pesona mendalam yang tak dimiliki keduanya.
Begitu melihat wanita itu, Mu Chen langsung teringat sosoknya saat mandi tadi, jantungnya berdebar kencang, bahkan wajahnya memerah tanpa sadar.
Wanita itu melangkah keluar, lalu membungkuk memberi salam, “Tuan pasti Panglima Muda Mu yang namanya menggema di seluruh pasukan. Saya, Lü Zhi, menyampaikan hormat!”
Begitu mendengar nama wanita itu, Mu Chen terkejut. Ia tahu betul, kelak Lü Zhi adalah permaisuri yang sangat berkuasa. Ia memang sempat menebak wanita di dalam adalah perempuan Liu Bang, tapi tak pernah menyangka itu justru Lü Zhi.
“Jadi ini istri Tuan Liu, saya mohon maaf atas kelancangan saya, mohon dimaafkan!” Setelah tahu identitas Lü Zhi, Mu Chen tak berani ceroboh, segera memberi salam resmi.
Lü Zhi tersenyum tipis pada Mu Chen, tapi Mu Chen merasa senyuman itu aneh, membuat bulu kuduknya merinding.
“Panglima Muda Mu memang benar-benar lancang,” mata Lü Zhi menatap tajam Mu Chen, “Hal lain tak perlu dibahas. Sekarang lebih baik pikirkan bagaimana memperbaiki sobekan di tenda saya. Meski sudah masuk musim semi, malam masih tetap dingin menusuk. Apa Panglima Muda ingin saya tidur diterpa angin sepanjang malam?”
“Eh…” Mu Chen menyadari Lü Zhi tampaknya curiga sobekan itu ulahnya. Ia pun jadi tegang. Bagaimanapun, status Lü Zhi berbeda dengan perempuan lain. Jika Liu Bang tahu ia dan para prajuritnya mengintip Lü Zhi mandi, nyawanya bisa melayang.