Bab 67 Bertemu Lagi dengan Roh Angin
Ketika menoleh ke belakang dan melihat wajah Die Wu yang pucat pasi, Zhou Ziling segera menarik kembali hawa membunuhnya.
“Kau tidak apa-apa? Maaf, aku tidak bisa mengendalikannya!”
“Tidak apa-apa!” Die Wu menggelengkan kepala dengan cemas. “Tuan, hawa jahat dalam tubuhmu terlalu berat. Bagaimana kalau kau menenangkan diri dan bermeditasi untuk menghapusnya?”
“Tidak perlu.” Zhou Ziling tersenyum tipis dan berkata perlahan, “Benda ini sudah menyatu denganku. Tidak ada gunanya menyingkirkannya. Lagi pula, aku tidak punya waktu untuk duduk tenang dan berkultivasi.”
“Kalau begitu, kita mau pergi ke mana sekarang?” tanya Die Wu. “Aku sudah tidak bisa merasakan aura Kakak Feng Ling.”
“Berhenti! Siluman!”
Tiba-tiba, seorang pendeta Tao melompat keluar sambil membawa pedang kayu persik dan jimat kuning. Ia menunjuk Zhou Ziling dan Die Wu seraya berseru, “Di siang bolong, di bawah langit yang cerah, kalian berani—”
“Buk!”
Zhou Ziling melayangkan tinju hingga pendeta itu terjengkang ke tanah. Dengan nada meremehkan, ia berkata, “Bagaimana? Masih ingin menaklukkan siluman?”
Pendeta itu segera bangkit dengan susah payah, lalu berlari sambil berteriak, “Tunggu saja kalian! Aku akan mencari bantuan. Kalau berani, tunggulah di sini!”
Die Wu memandangi pendeta yang kabur tunggang-langgang itu dengan heran. “Tuan, apa yang hendak dilakukannya?”
“Orang gila!” Zhou Ziling mencibir. “Nama baik kaum Taois dirusak oleh para penipu jalanan seperti itu. Mengenakan jubah Tao, membawa pedang kayu persik, lalu berpura-pura mengusir hantu dan menipu orang ke mana-mana.”
Zhou Ziling menatap sekeliling. Rupanya, karena mereka berdua beterbangan ke sana kemari di dalam kota, kegaduhan telah timbul. Banyak orang berlarian datang untuk menonton. Sebelum kerumunan itu mendekat, Zhou Ziling sudah membawa Die Wu terbang menjauh.
Mereka menggunakan ilmu tembus pandang agar tidak kembali terlihat dan menimbulkan kehebohan. Keberadaan para kultivator memang bukan lagi rahasia, tetapi bagi sebagian besar orang, kelompok itu masih tampak misterius dan sulit dipahami.
Saat sedang terbang, Zhou Ziling tiba-tiba melihat pendeta Tao tadi berlari. Dengan pikiran yang bergerak cepat, ia pun membuntutinya. Pendeta itu berlari sekuat tenaga mendaki sebuah gunung. Di puncaknya berdiri sebuah kuil Tao.
Kuil itu tidak besar. Kira-kira hanya ada belasan pendeta Tao yang menjalani kehidupan keagamaan di sana. Tidak terasa aura seorang kultivator, jadi kemungkinan besar itu hanyalah kuil Tao biasa yang hidup dari uang persembahan.
Pendeta itu bergegas masuk ke aula utama dan berkata kepada seorang pendeta tua yang lebih senior, “Guru, tadi murid bertemu dua siluman di padang belantara. Kekuatan mereka sangat tinggi, bahkan tidak takut pada pedang kayu persik. Murid—”
“Diam!” Pendeta tua itu berkata tanpa mengubah ekspresi. “Ada tamu datang. Sajikan teh!”
Pendeta itu menoleh. Ketika melihat Zhou Ziling dan Die Wu, wajahnya langsung berubah pucat dan ia buru-buru berseru, “Guru, mereka orangnya! Mereka itulah silumannya!”
Pendeta tua itu melirik cermin pengungkap siluman yang tergantung di atas pintu, lalu berkata perlahan, “Jangan kurang ajar. Cermin pengungkap siluman sama sekali tidak bereaksi. Bagaimana mungkin mereka siluman? Apakah kalian berdua datang untuk bersembahyang?”
Zhou Ziling dengan santai memunculkan sebatang dupa, lalu dengan sangat khidmat menyalakannya untuk Dewa Lao Jun dan bersujud tiga kali. Die Wu berdiri di sampingnya mengamati. Setelah Zhou Ziling selesai bersembahyang, ia memasukkan satu tahil perak ke dalam kotak persembahan di sisi mereka.
Pendeta tua itu langsung tersenyum lebar. Satu tahil perak cukup untuk menghidupi mereka selama sebulan. Ia segera berkata kepada pendeta tadi, “Apa yang kau tunggu? Sajikan teh terbaik! Silakan duduk, Tuan dan Nona. Jika ada persoalan yang mengganjal di hati, aku pasti akan membantu sekuat tenaga.”
Zhou Ziling lalu duduk di sampingnya dan bertanya perlahan, “Bolehkah aku bertanya, Guru? Para peziarah yang datang ke sini biasanya berasal dari mana?”
Pendeta tua itu berpikir sejenak sebelum menjawab ragu-ragu, “Tempat kami sederhana dan tidak banyak peziarah. Biasanya hanya para petani dari sekitar sini yang datang bersembahyang. Sesekali ada satu atau dua pelajar yang datang untuk bermalam. Apakah kalian sedang mencari seseorang?”
Zhou Ziling tidak menjawab pertanyaannya. Ia justru bertanya, “Apakah kau tahu jika akhir-akhir ini ada wabah penyakit?”
Kemudian Zhou Ziling menjelaskan nama penyakit yang hendak diobati dengan resep yang dibawa pasangan suami istri itu.
Mendengar penjelasan tersebut, pendeta tua itu teringat sesuatu. “Memang ada kejadian seperti itu. Akhir-akhir ini para peziarah yang datang semuanya berdoa agar penyakit mereka sembuh. Kudengar di sekitar sini ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Ah, mau bagaimana lagi? Luoyang dipenuhi orang yang datang dan pergi, hidup mengejar kesenangan, jadi tidak terhindarkan jika muncul berbagai penyakit.”
Zhou Ziling mengangguk dan melanjutkan pertanyaannya, “Apakah kau tahu di mana daerah yang paling parah?”
“Sepertinya Desa Sungai Kecil!” sela pendeta tadi. “Aku pernah ke sana. Banyak orang meninggal. Namun kudengar ada seorang tabib yang datang dan mampu menyembuhkan penyakit mereka. Entah benar atau tidak. Bisa jadi dia hanya penipu.”
Zhou Ziling mengerutkan kening. “Seberapa jauh Desa Sungai Kecil dari sini?”
Pendeta tua itu menjawab perlahan, “Di sebelah timur, kira-kira lima kilometer. Kau harus melewati beberapa gunung. Penyakit di sana tidak akan menular sampai ke tempat ini.”
Zhou Ziling mengangkat tangan memberi salam dan tersenyum. “Terima kasih kepada kalian berdua.”
Setelah itu, ia kembali memasukkan satu tahil perak ke dalam kotak persembahan, lalu membawa Die Wu terbang pergi.
Pendeta tadi menatap mereka yang terbang menjauh dengan heran. “Guru, sebenarnya mereka siapa?”
Pendeta tua itu menatap kotak persembahan dengan mata berbinar dan tersenyum. “Orang kaya.”
Zhou Ziling segera menggunakan kesadaran batinnya untuk menyusuri perjalanan. Tanpa diduga, ia menemukan aura pasangan suami istri itu. Wajahnya langsung berseri-seri dan ia buru-buru terbang ke arah tersebut. Namun, tiba-tiba ia menyadari ada beberapa aura siluman di dekat mereka. Ia pun segera menyembunyikan wujudnya dan bersembunyi.
Ketika mendekat dan melihat keadaan di sana, Die Wu hampir berteriak karena terkejut. Pasangan suami istri itu ternyata sudah dibunuh. Empat siluman sedang mengelilingi mereka dan memakan daging manusia.
Amarah Zhou Ziling seketika berkobar. Ia masih berharap dapat menangkap pasangan itu dan menanyakan keberadaan Feng Ling. Namun kini mereka telah dimakan siluman-siluman tersebut. Kepada siapa lagi ia harus bertanya?
“Aku akan membereskan mereka.” Zhou Ziling meminta Die Wu menutup matanya. Ia berkata perlahan, “Jangan khawatir. Semuanya akan selesai dalam sekejap!”
Die Wu mengangguk dan menutup mata dengan patuh.
Sosok Zhou Ziling bergerak secepat kilat. Kedua tangannya menyerang bersamaan, sementara ujung jarinya memadatkan petir tajam. Keempat siluman itu sedang asyik menyantap daging dan sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang mendekat.
Setelah bergerak beberapa kali, Zhou Ziling telah memenggal kepala mereka. Seluruh proses berlangsung tanpa suara. Bahkan suara darah yang menyembur pun tertutupi.
Setelah membunuh keempat siluman itu, Zhou Ziling kembali ke sisi Die Wu dan berkata lembut, “Sudah selesai. Kita lanjutkan perjalanan.”
Ia mengangkat Die Wu, lalu terbang cepat menuju Desa Sungai Kecil.
Saat itu sudah tengah malam. Segalanya sunyi. Penduduk desa biasanya beristirahat lebih awal setelah bekerja keras sepanjang hari, sebab tubuh mereka yang lelah sangat membutuhkan pemulihan.
Namun, kain putih yang terlihat di berbagai penjuru desa, lembaran uang kertas persembahan yang berserakan di tanah, serta suasana yang menyerupai kematian menunjukkan bahwa desa itu tengah dilanda bencana besar. Penyakit yang menyerupai wabah ini akan mengubah desa tersebut menjadi tanah tandus dalam waktu singkat.
Zhou Ziling membawa Die Wu berkeliling. Tak lama kemudian, firasat buruk memenuhi hatinya. Ia berkata perlahan, “Ini ulah manusia. Seseorang sengaja menebarkan penyakit ini di desa.”
“Apa?!” Die Wu terkejut. “Mengapa?”
“Jangan-jangan ada harta karun di desa ini?” Zhou Ziling memandangi lingkungan sekitar. Tempat ini sama sekali bukan tanah bertuah. Harta macam apa yang mungkin ada di sini? Penduduknya pun hanyalah manusia biasa. Bagaimanapun dilihat, mereka tidak tampak layak dimusnahkan dengan cara seperti ini.
Mengingat kemunculan para siluman di sekitar daerah itu, Zhou Ziling bergumam, “Jangan-jangan ulah para siluman itu? Tapi rasanya tidak masuk akal. Jika semua manusia diracuni sampai mati, apa yang akan mereka makan? Bukankah lebih baik membiarkan manusia tetap hidup? Daging manusia tentu lebih lezat jika masih segar. Bukankah manusia juga hanya mau makan ikan yang segar? Siapa yang mau memakan ikan beracun?”
“Tuan!” tiba-tiba seru Die Wu. “Aku menemukan aura Kakak Feng Ling!”
“Apa?!” Zhou Ziling segera merasakan sekeliling, tetapi tidak menemukan apa pun. Ia buru-buru bertanya, “Di mana?”
“Di sebelah barat!” Die Wu menunjuk ke arah barat Desa Sungai Kecil. Di sana terbentang pegunungan terjal dan sebuah sungai kecil. Setelah merasakan dengan saksama, Die Wu berkata gembira, “Kali ini aku tidak mungkin salah. Seharusnya itu benar-benar dia. Sepertinya dia sengaja menyembunyikan auranya.”
“Kalau begitu, apa yang kita tunggu? Ayo segera ke sana!”
Zhou Ziling langsung berseri-seri. Ia menarik Die Wu dan terbang ke arah yang ditunjuk.
Mereka tiba di tengah pegunungan. Seketika, hawa siluman yang begitu pekat memenuhi udara. Jelas ada sesuatu yang sangat kuat di tempat itu.
Zhou Ziling mau tidak mau merasa cemas. Ia berkata perlahan, “Kita harus berhati-hati. Ada siluman tangguh di sini. Jika sampai tertangkap, kita akan berada dalam masalah!”
Mereka mendarat dan bergerak diam-diam. Tak lama kemudian, Die Wu berhasil memastikan lokasi Feng Ling.
Zhou Ziling menyelinap ke tempat itu. Seorang wanita berjubah Tao hitam sedang membungkuk di dalam semak-semak, seolah-olah sedang menyergap seseorang. Ketika melihat wajahnya, Zhou Ziling langsung tahu bahwa wanita itu memang Feng Ling, orang yang selama ini dirindukannya siang dan malam.
Saat itu juga, Zhou Ziling hampir berlari menghampiri dan memeluknya, lalu menanyakan ke mana saja ia pergi. Namun, ia merasakan beberapa aura siluman di sekitar.
Ternyata ada lima siluman lain di dekat sana yang sedang sibuk mengutak-atik sesuatu. Zhou Ziling menyipitkan mata dan segera melihat keadaan di sana dengan jelas. Rupanya, para siluman itu sedang melemparkan sesuatu ke dalam air sungai.
Dengan cepat, Zhou Ziling menganalisis kandungan benda-benda tersebut. Benar saja, benda itu adalah bahan obat yang dapat menimbulkan penyakit.
Penduduk Desa Sungai Kecil mengambil air dari sungai. Setelah bahan itu dicampurkan ke dalam air, tentu saja semua penduduk akan jatuh sakit.
Setelah menebarkan racun, para siluman itu menyelinap pergi.
Feng Ling segera mengikuti mereka. Zhou Ziling juga buru-buru menyusul.
Kelima siluman itu menembus hutan, melewati sebuah gunung, lalu melompat turun dari tebing. Dalam sekejap, mereka menghilang di balik lapisan awan.
Feng Ling sempat ragu sejenak, lalu ikut melompat dari tebing dan menghilang dalam sekejap.
Zhou Ziling meminta Die Wu menunggu di atas. Setelah menyembunyikan wujudnya, ia pun melompat turun.
Menembus lapisan awan dan tiba di kaki tebing, ia menemukan sebuah gua. Hawa siluman berasal dari dalam gua itu.
Beberapa siluman berjaga di sekitar sana, tetapi Feng Ling bersembunyi dengan sangat baik sehingga tidak ditemukan.
Setelah mengamati beberapa saat, Feng Ling bergerak cepat membentuk segel tangan. Badai segera berkumpul. Lapisan awan di lembah pun tertarik turun.
Zhou Ziling tahu apa yang hendak dilakukannya, maka ia berjaga di samping untuk melindunginya, agar Feng Ling tidak tiba-tiba ditangkap para siluman.
Setelah waktu yang cukup lama berlalu, Feng Ling telah mengumpulkan badai yang mengerikan. Di bawah arahannya, badai itu berubah menjadi sebilah pedang tajam yang menusuk lurus ke dalam gua!
“Ah! Ah! Ah!”
Jeritan para siluman menembus badai dan terdengar dari dalam gua. Badai terus menghantam gua tanpa henti. Beberapa siluman berusaha keluar, tetapi tidak mampu melawan kekuatan badai yang dahsyat. Pada akhirnya, mereka hanya bisa terperangkap dan tercabik-cabik.
Zhou Ziling mengangkat alis. Ia mengulurkan satu jari dan menekannya ke tanah. Aliran magma segera memanjang dari dalam bumi menuju gua. Dengan dorongan badai, magma itu melesat ke arah kerumunan siluman.
Dalam sekejap, kobaran api raksasa menerangi separuh langit. Lembah itu tampak seperti siang hari.
Feng Ling tidak tahu bahwa Zhou Ziling sedang membantunya. Ia mengira semua itu adalah hasil kekuatannya sendiri. Wajahnya pun dipenuhi ekspresi bangga, sementara badai menjadi semakin dahsyat.
Melihat senyum di wajahnya, Zhou Ziling ikut tersenyum bahagia. Hatinya terasa begitu manis. Selama ia bisa terus memandangi Feng Ling seperti itu, segala hal lain dapat dilupakan.
Kira-kira setelah waktu yang diperlukan untuk membakar sebatang dupa berlalu, tidak ada satu pun siluman yang keluar. Sepertinya mereka semua telah dimusnahkan.
Feng Ling mengangkat alis dengan bangga, tersenyum santai, lalu bangkit dan bersiap pergi.
“Hendak lari?”
Tiba-tiba, sebuah bentakan keras terdengar dari dalam gua. Sebongkah duri es melesat keluar dengan kecepatan luar biasa.
“Buk!”
Dalam sekejap, separuh lereng gunung membeku.
Sesaat kemudian, keluarlah seekor siluman seukuran manusia. Wujudnya aneh dan kulitnya berwarna biru. Di tengah duri-duri es yang putih berkilauan, jubah Tao hitam Feng Ling tampak sangat mencolok.
Siluman itu kembali menembakkan sebongkah duri es.
Feng Ling dengan lincah menghindar, tetapi es membeku dengan sangat cepat. Ia tetap terkena serangan itu. Untungnya, ia segera terbang menjauh, sehingga hanya sebagian kecil tubuhnya yang terkena es dan tidak sampai membeku seluruhnya.
Zhou Ziling masih mengamati dari samping. Tiba-tiba, kecurigaan muncul di dalam hatinya. Duri-duri es yang dingin itu seolah telah membuat pikirannya lebih jernih, sementara luapan kegembiraannya sedikit mereda.
Menurut akal sehat, Feng Ling telah meninggalkan Gunung Abadi Qiyun sejak lama. Ia seharusnya tidak lagi mengenakan jubah Tao, apalagi jubah Tao berwarna hitam.
Sejak mereka dianiaya oleh Pendeta Wang dan bersembunyi di dalam gua kecil itu, mereka tidak pernah lagi mengenakan jubah Tao.
Feng Ling sendiri juga tidak menyukai pakaian berwarna hitam. Bagi seorang kultivator, warna pakaian yang dikenakan pada malam hari tidak banyak berpengaruh. Dengan sedikit ilusi penghalang pandangan, semua itu dapat disamarkan.
Karena itu, alasan bahwa ia mengenakan pakaian hitam demi bersembunyi pun tidak masuk akal. Terlebih lagi, jika ingin bergerak pada malam hari, pakaian khusus untuk menyelinap tentu jauh lebih cocok. Jubah Tao yang lebar justru tampak merepotkan dan membebani gerakan.
Setelah memikirkannya berulang kali, Zhou Ziling akhirnya sampai pada kesimpulan yang mengejutkan: wanita itu bukan Feng Ling.